Headline

Ajari Siswa SMP untuk Mandi dan Gosok Gigi

IST PELOSOK PAPUA-Nurjanna Jamaluddin Saturi bersama siswa yang diajarnya di SMP Negeri 1 Ilaga Kabupaten Puncak, Provinsi Papua.

TIDAK banyak sarjana, khususnya perempuan yang bersedia mengajar di wilayah pelosok dan terpencil. Apalagi di bagian ujung negeri ini. Dari yang sedikit itu, Nurjanna Jamaluddin Saturi salah satunya.

Laporan: Ardhita Anggraeni

MERINTIS karir yang menjadi keinginan sendiri, lokasi bukan masalah. Termasuk jika harus ditempatkan di daerah yang jauh dari keramaian.
Itulah yang dilakoni Jane, sapaan akrab Nurjanna. Sejak 2013 lalu ia tercatat sebagai guru penggerak daerah terpencil di Indonesia. Wanita kelahiran Pekkabata, Pinrang, 8 Desember 1990 ini ditempatkan di SMP Negeri 1 Ilaga, Kabupaten Puncak, Provinsi Papua.
Dibutuhkan perjuangan keras yang dilingkupi suka dan duka. Sebab tempatnya mengajar berada pada wilayah gunung tertinggi di Papua.
Kerasnya medan di lokasi ini membuat Jane harus menguras energi dan air mata. Tak terkecuali kemampuan untuk beradaptasi dengan kehidupan serta menghadapi perbedana budaya.
”Menjadi guru itu bukan cita-cita saya. Jalan berliku telah mengantarkan saya ke sini. Saya harus menjalaninya sebaik yang saya bisa, sekalipun tak sedikit tantangannya,” ungkap Jane, yang berkomunikasi dengan BKM melalui sambungan telepon selular.
Ia bertutur tentang awal mula bergabung dengan Gugus Tugas Papua melalui program yang dicanangkan pemerintah bekerja sama Universitas Gadjah Mada (UGM). Program yang diperuntukkan bagi sarjana baru ini dimaksudkan untuk mengadaptasi program Indonesia Mengajar. Saat itu Jane baru lulus dari jurusan pendidikan elektronik Universitas Negeri Makassar (UNM).
”Kalau dibilang berat, sangat berat. Harga kebutuhan pokok disini sangat mahal. Air bersih sangat kurang. Mata air sangat jauh. Untuk pergi belanja harus menggunakan pesawat. Biayanya sangat mahal. Tempat mengajar juga jauh. Perjalanan menempuh jarak berkilo-kilo karena berada di atas pegunungan. Belum lagi harus berhadapan dengan kondisi cuaca buruk yang kadang datang tak terduga,” terangnya.
Anak kedua dari lima bersaudara pasangan Jamaluddin Saturi dan Marhana Manni ini, mengaku tidak pernah membayangkan akan menjadi pengajar di wilayah pelosok Indonesia. Apalagi yang lokasinya sangat tertinggal dan tak pernah diketahui sebelumnya.
”Bayangkan saja, kita harus mengajarkan mereka tentang cara mandi. Mereka biasa mandi menggunakan sabun cuci bubuk, yang kita tahu terasa sangat panas ketika digosokkan ke tubuh. Belum lagi tentang cara gosok gigi. Selama ini mereka hanya mengunyah buah pinang. Begitu pula dengan membaca,” bebernya.
Jane menjadi satu-satunya tenaga pengajar di Kecamatan Puncak. Ketika tiba waktu belajar, ia harus memanggil satu persatu siswa siswinya dari rumahnya masing-masing.
Begitu banyak aspek masyarakat di wilayah ini masih jauh tertinggal dari penduduk Indonesia lainnya di perkotaan. Namun ada satu hal yang menjadi pelajaran berarti bagi Jane. Masyarakat setempat terus menjaga dan melestarikan sikap ramah dan sopan, yang saat ini jarang ditemukan Jane di perkotaan.
Di Desa Puncak, guru sangat dihormati. Kemana-mana ia selalu disapa. Hal itu sangat dirasakan oleh Jane.
Tradisinya juga cukup unik. Jane bercerita, kalau berkunjung ke rumah-rumah warga, ia selalu disuguhi teh dan wajib makan. ”Kalau tidak makan, mereka bilang kita tidak menghargai,” ujarnya. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top