Gojentakmapan

Refleksi di Usia 696 Gowa Miliki Ikon Pariwisata Andal

BKM/IST POTENSI WISATA- Gowa memiliki sejuta ikon wisata aduhai diantaranya kebun bunga krisan, Danau Tanralili, dan air terjun Cinta nan indah.

BERTOLAK dari 17 Nopember 1320 hingga ke tahun 2016 ini, usia kabupaten Gowa telah menjadi 696 tahun. Sungguh jumlah usia yang bukan baru kemarin. Banyak perubahan telah terjadi dan mengubah wajah daerah penghasil tambang galian C ini menjadi lebih pesat. Bukan hanya dari segi sumber daya alamnya. Tapi dari segi kualitas sumber daya manusianya pun mengiringinya. Tak heran kabupaten Gowa maju makin dan semakin keren.

Hal itu tak lain dari keuletan pemimpin daerahnya kurun 11 tahun berjalan. Mulai dari masa kepemimpinan H Ichsan Yasin Limpo hingga kini telah dinahkodai Adnan Purichta Ichsan. Janji dan komitmen Adnan Purichta Ichsan sebagai bupati Gowa bersama wakilnya H Abd Rauf Malaganni, telah memberikan kepastian hakiki kepada masyarakat Gowa seutuhnya bahwa daerah Gowa tidak akan berjalan di tempat. Namun terus bergerak hingga menjadi daerah yang kini dijuluki sebagai daerah inspirasi bagi daerah-daerah lainnya di Sulsel maupun luar Sulsel.
Dalam perjalanan panjang melebihi dari setengah abad itu, Gowa dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, terus bergerak maju disemua sektor pembangunan yang ada. Sektor pendidikan dan kesehatan gratis menjadi komitmen dasar yang dioptimalkan di tengah masyarakat. Harapannya, jika kedua sektor ini menjadi utama maka akan berimbas ke sektor lainnya.
Kedua sektor ini telah mengantarkan Gowa semakin berkibar di tengah persaingan global yang kian kompetitif. Bermula dari pendidikan gratis dan kesehatan gratis ini maka upaya pemerintah kabupaten dalam mengolah kekayaan daerah pun tidak luluh. Salah satu contohnya adalah sektor pariwisata.
Hal ini dapat terlihat dari tingkat kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang ke Gowa dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2015 lalu, sebanyak 23.060 orang wisatawan berkunjung ke Gowa. Demikian juga tahun 2016 ini. Hingga pertengahan Nopember saat ini, tercatat kurang lebih 24.000 wisatawan lokal dan asing yang datang ke butta ‘Bersejarah’ (bersih sejahtera ramah dan hijau) ini. Sebuah angka yang besar tentunya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gowa, Andi Rimba Alam A Pangerang, mengatakan, dalam menggenjot tingkat kunjungan wisatawan ke daerah ini, pihaknya tidak hanya gencar mempromosikan destinasi-destinasi wisata yang ada, tapi juga terus melakukan pembenahan dengan menata secara apik obyek wisata itu meski itu perlahan namun pasti.
Peningkatan itu menjadi balance dengan pengembangan infrastruktur jalan melalui pelebaran ruas jalan poros menuju kota wisata Malino, serta menata obyek-obyek wisata lainnya yang ada di Malino untuk mendukung Malino sebagai kota bunga.
”Apalagi sekarang kita program Beautiful Malino Indah. Jargon ini kita luncurkan untuk menjadikan Malino sebagai destinasi wisata utama Gowa ke depan,” kata Andi Rimba Alam Pangerang ditemui di kantornya.
Andi Rimba Alam Pangerang mengatakan, tahun 2018 mendatang pihaknya mengangendakan untuk menggelar pameran bunga, bursa bunga dan karnaval berskala nasional. ”Insya Allah ini akan menjadi agenda tetap tiap tahunnya,” ujarnya.
Di Malino saat ini juga tengah dikembangkan bunga krisan dengan sistem pir dan plasma. Bunga ini dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi. Kini dari pengembangannya dua tahun lalu, bunga-bunga krisan ini telah mampu diekspor ke luar negeri meski stoknya masih terbilang belum memenuhi target permintaan pasar manca negara.
Banyak hal yang mendongkrak potensi pendapatan daerah Gowa dari masa ke masa. Apalagi dalam minggu ini pemerintah kabupaten bekerjasama Bank Sulsel menggelar even Malino Run 11 Km. Kegiatan ini akan digelar pada 20 Nopember mendatang.
”Ini juga kita akan jadikan agenda tahunan untuk lebih memboomingkan Malino dengan segala potensi wisata alam yang dimilikinya,” katanya.
Dalam mengembangkan sektor wisata ini, diakui memang masih mengandalkan wisata alam, khususnya keindahan alam kota Malino dan sekitarnya. Tak hanya itu, wisata budaya juga menjadi jualan yang memiliki daya tarik tinggi guna menggaet wisatawan sebanyak-banyaknya datang ke Gowa. Ada museum Istana Balla Lompoa dan Istana Tamalate, mesjid tua Katangka, kompleks makam Raja-raja Gowa di Lakiyung serta Katangka dan beberapa obyek wisata sejarah dan budaya lainnya yang bertebaran di beberapa tempat. Semua ini menjadi destinasi yang patut didatangi. Karena memiliki history serta nilai sejarah yang akan terus dikenang sepanjang masa.
Selain membenahi wisata alam dan budaya yang sudah ada, pihak Dinas Pariwisata juga terus mengembangkan destinasi wisata baru yang tak kalah menariknya. Yakni eksotisme panorama Danau Tanralili yang terletak di kecamatan Tinggimoncong. Kawasan danau di antara lembah pegunungan ini telah mencuri perhatian wisatawan yang awalnya hanya menjadi lokasi persinggahan para pendaki gunung tersebut. Rencananya, kawasan Danau Tanralili ini akan dijadikan sebagai tempat refreshing dan kemping bagi remaja dan mahasiswa. Awal dari perkenalan kawasan danau ini, akan digelar even Camping Day yang diprakarsai Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan.
Tak dapat dipungkiri, pengembangan kepariwisataan di wilayah Malino dan sekitarnya telah menanam omzet besar bagi pendapatan daerah Gowa secara turun temurun. Saat ini Dinas Pariwisata memiliki target PAD Rp1,185 miliar. Jelang penghujung tahun 2016 ini, capaiannya sudah sebesar 160 persen atau sebesar Rp 1,8 miliar. Ini satu pembuktian, prestasi membanggakan daerah. Karena itu tak heran jika Andi Rimba Alam Pangerang berani mematok target PAD untuk tahun anggaran 2017 mendatang sebesar Rp2 miliar. (sar)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top