Berita Kota Makassar | ''Kuciumki Tangannya Mamaku Tadi Pagi''
Headline

”Kuciumki Tangannya Mamaku Tadi Pagi”

MAKASSAR, BKM — Kecelakaan lalulintas di ujung Jalan Tol Reformasi samping flyover Urip Sumoharjo menimbulkan luka mendalam di kalangan keluarga korban. Mereka yang ditabrak mobil Isuzu Panther pengangkut uang untuk ATM (Anjungan Tunai Mandiri) itu merupakan tulang punggung keluarga.
Marianti misalnya. Ditemui di ruang perawatan kamar 328 Rumah Sakit Ibnu Sina, kemarin, ia menceritakan kembali detik-detik kala peristiwa menimpa dirinya bersama empat rekannya.
Waktu itu ada mobil Panther yang datang dari arah Jalan Tol dengan kecepatan tinggi. Lampu pengatur lalulintas yang tadinya warna hijau berubah menjadi merah. Sopir mobil mencoba mengerem. Saat itulah mobil kehilangan kendali, berputar-putar hingga menyeruduk sekumpulan gadis penjual tisu.
“Awalnya mobil yang datang dari arah jalan tol kencang sekali. Tiba-tiba lampu merah. Ketika direm, mobilnya berputar-putar dan menabrak kami,” ujar Marianti.
Kondisi Marianti sudah membaik. Luka-lukanya mulai mengering. Wajahnya kembali cerah. Saat ditemui, ia didampingi ibundanya, Mardati.
”Waktu kami ditabrak, saya dan tiga teman lainnya terlempar cukup jauh. Sementara Jumriani tidak terlempar. Ternyata dia meninggal di tempat,” kenangnya, sedih.
Andi Tasya yang dirawat di ruangan sama dengan Marianti, menambahkan Jumriati memang tidak terlempar saat ditabrak. Ia terjatuh dan tersempet mobil hingga mengembuskan nafas terakhir di lokasi kejadian.
Keduanya mengaku tidak mendapat firasat buruk sebelum peristiwa nahas itu menimpanya. Hanya Jumriati yang berubah aneh tak seperti biasanya.
”Tidak adaji perasaan buruk kurasa sebelum kejadian. Temankuji Jumriati yang berubah aneh tidak seperti biasanya. Wajahnya tampak lebih bercahaya. Senyum-senyum terus. Dia bilang, kuciumki tangannya mamaku tadi pagi,” ujar Andi Tasya.
Marianti mengalami luka pada kedua lutut dan kakinya. Ibundanya, Mardati begitu sedih melihat kondisi putrinya yang harus terbaring lemah di atas kasur.
Mardati yang kesehariannya merupakan ibu rumah tangga biasa, menceritakan kondisi keluarganya. Mereka hidup di bawah garis kemiskinan.
Dalam satu terakhir, suaminya tidak bekerja. Ia baru selesai menjalani operasi pengangkatan batu yang ada di perutnya.
”Ini anakku yang sekarang jadi tulang punggung keluarga. Dia jadi penjual tisu di flyober. Tidak sekolahmi juga, karena nabantu kasian keluarganya,. Sudah satu tahunmi dia bekerja menjual tisu” kata Mardati, yang tinggal di Jalan Suka Damai.
Ia mengaku tidak bisa bekerja karena sibuk mengurus seorang adik Marianti. Barang yang dijual Marianti diperoleh dari neneknya yang juga penjual tisu.
Marianti dan keempat kawannya setiap hari menjajakan tisu kepada pengguna mobil atau motor yang melintas di bawah jembatan flyover. Penghasilan yang didapat tidak menentu setiap hari. Kadang Rp15 ribu, biasa juga Rp25 ribu. Bahkan tidak dapat sama sekali.
Sementara ayah Andi Tasya, Andi Ijo yang membuka usaha bengkel di dekat flyover, menceritakan bahwa pada saat kejadian dia kaget melihat banyak orang yang berkumpul di sekitar pembatas Jalan Tol Reformasi. “Saya kaget kenapa banyak sekali orang berkumpul di sana. Waktu saya ke situ ternyata anak saya menjadi korban tabrakan,” ujarnya.
Orang tua kedua bocah penjual tisu ini berhadap pelaku yang menabrak anaknya bisa bertanggung jawab. Khususnya membiayai pengobatan korban hingga sembuh.
BKM juga mendatangi Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, tempat Anggi menjalani perawatan. Ia yang sebelumnya dirawat di RS Ibnu Sina sesaat setelah ditabrak bersama empat temannya yang lain, terpaksa dirujuk ke RS Wahidin. Anggi mengalami luka yang cukup serius di bagian kepala.
Kakak korban, Nia menuturkan, adiknya sudah bisa diajak bicara. Namun belum bisa berkomunikasi secara normal.
Menurut Nia, saat kejadian Anggi hendak pulang ke rumah untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. ”Dia jualan dari jam 10 sampai jam 12. Setelah itu ke sekolah. Pas mau pulang, tiba-tiba ada mobil dari jalan tol yang larinya kencang sekali karena naburuki lampu hijau. Disitumi natabrakmi,” jelas Nia.
Anggi yang tinggal di Jalan Urip Sumoharjo Lorong 6 ini sehari-hari menjual tisu di bawah flyover. Tisu tersebut ia beli di Pasar Daya untuk dijual kembali. Pekerjaan ini sudah dilakoninya sejak dua tahun lalu demi mambantu orang tuanya.
Ayah Anggi tidak memiliki pekerjaan tetap. Sementara ibunya menjadi pedagang asongan. Kondisi inilah yang membuat Anggi nekat berjualan di persimpangan jalan tersebut.
Sebelum kejadian, Nia mengatakan, tidak memiliki firasat apapun. Peristiwa tersebut terjadi begitu saja. Beban keluarga korbanpun sedikit berkurang dengan kesediaan pihak perusahaan untuk bertanggung jawab.
Aparat Satuan Lalulintas Polrestabes Makassar yang menangani kasus ini, mengaku masih melakukan pemeriksaan terhadap sopir mobil. Kasat Lantas, AKBP Hamka Mappaita bahkan berjanji akan segera merampungkan berkas kasus ini.
”Kami melakukan proses secepatnya. Dalam dua pekan berkasnya sudah rampung dan segera dilimpahkan ke kejaksaan,” jelas Hamka.
Dalam pemeriksaan polisi, Dirwan alias Iwan, sopir mobil B 1986 SKU itu mengakui kalau kendaraannya dalam kecepatan tinggi. Tiba-tiba dia mengerem mendadak, hingga akhirnya hilang kendali. Mobil kemudian menyeruduk tiang bersama lima gadis penjual tisu yang sedang duduk di pinggir trotoar median jalan.
”Sopirnya mengejar lampu lalulintas yang masih hijau saat itu. Tapi tiba-tiba berubah menjadi merah. Karena kecepatan kendaraan cukup kencang, saat direm mendadak sulit dikendalikan. Akibatnya menyeruduk tiang dan lima perempuan,” terang Hamka.
Menyusul kejadian tersebut, polisi berharap SKPD terkait bisa menertibkan para pedagang yang banyak berjualan di jalanan. ”Sudah cukuplah kejadian ini sehingga tidak lagi muncul korban lainnya. Instansi terkait perlu segera turun menertibkan penjual yang di jalanan,” imbuhnya.
Pada malam setelah kejadian, keluarga korban Jumriani yang meninggal di tempat, ditemui PT Abacus. Perusahaan tersebut merupakan tempat kerja Dirwan. Mereka menyatakan siap bertanggung jawab atas insiden tabrakan maut itu.
”Tadi malam (Senin malam) pihak PT Abacus mendatangi kami. Mereka memohon maaf atas kejadian tersebut dan menyatakan turut berduka cita. Perusahaan siap menanggung seluruh biaya pemakaman sampai fasilitas ambulance. Juga menyerahkan uang Rp1 juta,” terang Ardi, paman Jumriani, kemarin.
Pihak keluarga, tambah Ardi, masih melakukan pembicaraan dengan PT Abacus. Sebab pada pertemuan awal belum ada pembahasan apapun.
”Pihak PT Abacus akan mendatangi kami lagi. Kami berharap perusahaan bertanggung jawab dan menyelesaikan penanganan administrasi korban hingga selesai,” ujar Ardi. (mg1-mg2-ish/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top