Remaja Mencari Mimpi dari Isap Lem – Berita Kota Makassar
Headline

Remaja Mencari Mimpi dari Isap Lem

DUDUK di pojok tembok sambil mengisap sesuatu yang disembunyikan di balik baju. Dari gerakannya sudah bisa dideteksi jika ia sedang menikmati bau lem.
Apa sebenarnya yang mereka cari? Anak-anak dan yang merangkak menjadi remaja punya alasan berbeda-beda. Namun ada satu yang sama, yaitu mendapatkan mimpi dan kenikmatan saat mengisap lem.
Ft masih berumur 17 tahun. Ia sering mangkal di depan sebuah minimarket di Jalan Pongtiku, Kecamatan Tallo. Ia bersedia berbagi cerita dengan BKM yang menemuinya, Senin (14/11).
Menurut Ft, ia dan teman-temannya bisa mengisap lem aibon. Biasanya, ada lokasi strategis yang mereka pilih untuk menunaikan hajatnya. Yaitu di ujung tembok sebuah bangunan.
Selain posisi duduk yang lebih nyaman, isap lem di ujung tembok juga bisa lebih cepat mendapatkan mimpi dan halusinasi.
“Kalau isap lem itu lebih enak kalau di ujung tembok, Kak. Atau di belakang pintu. Karena kita tidak terganggu dan pasti cepatki mimpi. Kalau lamaki isap lem, biasa kita mimpi dan melayangki,” jelas Ft.
Diakui, mengisap lem aibon tidak jauh beda efeknya dengan mengonsumsi minuman keras beralkohol. ”Kita juga bisa mabuk kalau isap lem. Biasanya lemas kemudian muncul halusinasi,” ujarnya.
Hanya saja, tambah Ft, mabuk akibat lem aibon lebih cepat hilangnya ketimbang minum minuman beralkohol yang mabuknya baru bisa hilang setelah berjam-jam.
Dia bercerita, sejak duduk di bangku SD kelas 4, dia dan beberapa temannya sekolahnya sudah mulai mengisap lem aibon. Kebanyakan hal itu dia lakukan ketika pulang sekolah, baik di rumahnya maupun di rumah temannya. Tidak jarang, pos atau rumah kosong dijadikan sebagai tempat berpesta isap lem.
Uang jajan yang diberikan orang tuanya kerap dia gunakan untuk saweran membeli lem aibon bersama teman-temannya. Selain itu, menjadi tukang parkir di depan minimarket juga cara yang sering dilakukannya untuk mendapatkan uang. Hasilnya kemudian digunakan membeli lem.
“Kalau sendiri, saya biasa habiskan lem satu kaleng dalam sehari. Jadi kalau belika lem pagi, saya isap di waktu siang. Kalau belum habis, saya simpan. Kemudian isap lagi malamnya. Sudah lamami saya isap lem. Dari kelas empat SD isapma lem sampai sekarang. Uang yang dikasihka mamaku saya belikanji lem, atau saweranka sama temanku beli,” terangnya polos.
Dia mengaku sudah sering kedapatan oleh kedua orang tuanya saat mengisap lem di rumahnya. Sanksinya, orang tuanya menahan uang jajannya selama dua hari. Setelah itu kembali memberinya uang jajan.
Untuk mendapatkan lem aibon, menurutnya, tidaklah sulit. Minimarket dan warung asongan bebas menjual kepada orang-orang yang mau membeli lem. Termasuk anak-anak tanpa mempertanyakan dipakai untuk apa.
Di usianya yang sudah 17 tahun, Ft sudah tidak lagi bersekolah. Ia memilih untuk menjadi tukang parkir di salah satu minimarket di Jalan Pongtiku. Alasannya, selain karena biaya sekolah yang mahal, dia juga mengaku dikeluarkan di sekolahnya sejak duduk di bangku SMP kelas 2.
“Sudah seringma didapat orang tua dan dimarahika. Tapi paling satu dua hari. Setelah itu dikasihja lagi uang. Ngelem lagi. Sekarang saya tidak sekolahma. Saya sama temanku ganti-gantian jadi tukang parkir. Uangnya kita pakai bikin acara punk, dan isap lem kalau lagi mauki,” cetusnya.
Kepala Biro Napza dan HIV/AIDS Pemprov Sulsel, Sri Endang Sukarsih mengakui, penyalahgunaan lem yang termasuk dalam kategori napza sudah sangat marak. Walaupun belum diatur dalam Undang-undang No 35 tentang Narkotika, tetapi sebenarnya bisa ditangani secara serius.
Acuannya Undang-undang Perlindungan Anak (UU PA), Peraturan Daerah (Perda) Sulsel Sistem PA dan Perda tentang Anak Jalanan.
Selain itu, kata Sri Endang, peran orang tua sudah harus lebih dimaksimalkan dalam mengawasi anak.
Sejauh ini, lanjutnya, sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) Biro Napza dan HIV, pihaknya sudah mendorong program pengendalian Napza dan HIV/AIDS dengan beberapa kegiatan. Diantaranya mengadvokasi kebijakan dan program sekolah bebas NAPZA/narkoba & penularan HIV.
“Ini ada petunjuk teknisnya atau juknis,” kata Sri Endang, kemarin.
Dia menambahkan, pihaknya juga melakukan program sistem pewaspadaan partisipatif yang aksinya dilakukan mulai dari tingkat satgas sampai tingkat RT. Ada juga model rehabilitasi HBC Ballatta untuk bisa direplikasi oleh para pihak. Tak lupa mengaktifkan forum pemberantasan hingga ke tingkat provinsi. (arf-rhm/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top