Polisi akan Bongkar Makam Rani – Berita Kota Makassar
Sulselbar

Polisi akan Bongkar Makam Rani

SIDRAP, BKM — Penyidik unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim berencana akan menggali kembali kuburan Rani Nurdin (12), korban penganiayaan teman sekelasnya Ridwan alias Lakombeng (12).
Kapolres Sidrap AKBP Anggi Naulifar Siregar melalui Kasat Reskrim AKP Chandra Yudha Pranata membenarkan rencana tersebut.
“Saya pelajari kasusnya. Ini harus dilakukan otopsi jenazah karena keluarga korban tidak menyertakan bukti-bukti kekerasan fisik. Kami akan meminta bantuan ahli Forensik Polda Sulsel,”tegas AKP Chandra, di kantornya, Rabu (9/11).
Menurut Chandra, kasus dugaan penganiayaan yang berujung meninggalnya Rani bocah perempuan yang masih duduk dibangku kelas VI SDN 3 Baranti ini mengalami kekerasan fisik setelah dianiaya rekan sekelasnya Ridwan.
Proses hukum kasus ini, harus hati-hati dilakukan penyidikanmya karena keluarga korban baru resmi melapor tiga hari setelah korban meninggal dunia. Dugaan awal korban meninggal dunia akibat penganiayaan,”kata Chandra.
Rencana pembongkaran jasad Rani Nurdin, katanya lagi, akan dilakukan secepatnya. Hak untuk menguatkan bukti-bukti laporan korban jika memang benar terjadi penganiayaan.
Untuk penyidikannya juga, pihak guru-guru dan kepala sekolah juga akan dipanggil sebagai saksi.
Sementara pihak ibu korban mengaku akan menyerahkan sepenuhnya kasus kematian anak bungsunya ini ke pihak Kepolisian.
“Kalau memang ada rencana polisi mau melakukan otopsi dan menggali kuburnya, kami pasrahkan saja. Yang penting kasus anaknya terungkap fakta sebenarnya,”tutur ibu Rani bernama Icalemma diamini kakak sulung korban Rusni (33), ditemui dikediamannya di Baranti, Rabu kemarin.
Kasus terungkapnya Rani berawal dari adanya dugaan penganiayaan oleh Ridwan, teman sekelas korban.
Rani dianiaya karena kerap melapor pelaku ke gurunya karena sering mengganggunya. Akibatnya, Ridwan sering di hukum oleh gurunya. Pelaku yang tak terima dilapor berniat kembali menganiaya Rani sepulang sekolahnya pada tanggal 29 Oktober.
Selama lima hari Rani tak pernah pernah masuk sekolah jarena luka memar disekujur tubuhnya. Namun hal itu tak pernah dilaporkan Rani ke orangtuanya hingga ajal menjemputnya.
Orang tua Rani menganggap sakit anaknya itu adalah hal lumrah karena tidak luka menonjol akibat kekerasan fisik.
Kasus ini baru terungkap setelah sejumlah pelayat mulai guru maupun teman teman sekolah korban.
Dasar inilah kemudian pihak keluarga resmi melaporkan pelaku ke Polsek Baranti sesuai nomor laporan polisi Nomor STTL.73/XI/2016/Sulsel/Res Sidrap/ Sek BRT,Senin 7 November 2016. (ady/C)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top