Berita Kota Makassar | Modal Kepekaan Sosial, Bekerja Tanpa Honor
Headline

Modal Kepekaan Sosial, Bekerja Tanpa Honor

BKM/RAHMAN RAHIM Kalsum Arief

NILAI-NILAI kepahlawanan kini diterjemahkan dalam berbagai dimensi. Perjuangan tidak lagi untuk meraih kemerdekaan. Tapi lebih pada mengisinya dengan berbagai kegiatan pada banyak profesi.

Laporan: Rahman Hamid

MENGGAPAI impian tidak semudah membalik telapak tangan. Namun nasib seseorang tidak akan pernah meleset. Kalimat bijak itu sepertinya cocok disematkan pada sosok Kalsum Arief,SAg.AMd.Kep.
Saat ini Kalsum bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pembantu Lakkang, Kelurahan Lakkang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Ia dipercaya sebagai pelaksana administrasi kesehatan.
Untuk mencapai posisinya sekarang, Kalsum butuh perjuangan panjang, kerja keras dan kesabaran yang paling penting. Apalagi ia sama sekali tidak punya latar belakang ilmu kesehatan.
Dirinya hanya bermodal kepekaan dan jiwa sosial melihat kondisi Lakkang yang masih belum banyak tersentuh pelayanan kesehatan.
Jebolan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah itu memulai karir sejak tahun 2000 dengan status sukarela. “Tahun 2000 saya mulai bantu-bantu,” kata Kalsum yang ditemui BKM di kediaman pribadinya, Kamis (10/11).
Meski begitu, ia tetap menjalani rutinitasnya dengan lapang dada. Apalagi saat itu tidak ada yang namanya honor, tunjangan ataupun insentif.
Kalsum menjadi tenaga sukarela hingga tahun 2005. Karena berkat pengabdiannya, ia kemudian diangkat menjadi tenaga kontrak.
Disitulah ia baru bisa menikmati hasil keringat. Kalsum menjalani pekerjaan sebagai tenaga kontrak hingga tahun 2014. Selanjutnya, dia terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Dalam perjalanan karirnya mulai dari sukarela, tenaga kontrak hingga PNS, banyak kisah dan pengalaman yang tak bisa ia lupakan. Bermodal jiwa sosial, Kalsum bercerita bahwa dirinya hanya membantu dan memfasilitas warga.
”Saya sama sekali tidak punya basic di bidang kesehatan. Saya hanya membantu warga, mengantar ke Puskesmas Ujung Pandang Baru,” tuturnya.
Yang tidak bisa ia lupakan, adalah setiap bertugas mengurus kepentingan masyarakat, dirinya harus berjalan kaki dengan jarak tempuh kurang lebih 10 kilometer. Itu baru sampai di tol lama Kelurahan Parangloe.
Belum lagi saat warga ingin melahirkan pada dinihari, dirinya harus mengantarnya ke Puskesmas Ujung Pandang Baru.
”Saat itu kita harus jalan kaki keluar sampai jalan tol kalau ada kebutuhan masyarakat. Pernah juga saya antar warga ke Puskemas jam 3 subuh,” kenangnya.
Seiring perjalanan waktu, pada tahun 2008 ia membangun taman bermain yang diberi nama Al-Ikhlas. Tempat tersebut masih ada dan telah memiliki 30 orang murid. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top