Jadi Bukti Kreatifitas Bisa Lahir di Daerah – Berita Kota Makassar
Headline

Jadi Bukti Kreatifitas Bisa Lahir di Daerah

DALAM kurun waktu beberapa tahun terakhir, film lokal yang dibesut orang-orang kreatif di daerah ini berhasil mencuri perhatian para penikmat film. Sejumlah sineas lokal bermunculan dan boleh diadu kreatif dengan yang ada di Jakarta. Karya-karya mereka selalu ditunggu untuk bisa dinikmati.

Laporan: Rahmawati Amri

SEJUMLAH film produksi lokasi berhasil mendapat tempat di hati masyarakat. Beberapa judul film seperti Bombe, Bombe II, Dumba-dumba, Sumiati, Harim di Tanah Haram, dan teranyar, Uang Panaik yang berhasil mencuri perhatian penikmat film hingga di luar Makassar, patut diacungi jempol. Dan yang saat ini sedang gencar dipromosikan adalah film Silariang.
Antrean penonton dengan keingintahuan tinggi untuk menikmati film besutan lokal kerap terlihat jika ada yang baru direquest.
Kehadiran film lokal di bioskop-bioskop ternama, seperti XXI dan Studio 21, menurut salah seorang pengamat film yang juga produser Uang Panaik, dr Wachyudi Muchsin menjadi bukti jika kreatifitas tidak hanya dilahirkan di ibu kota negara. Tapi juga di daerah.
Sebenarnya, film lokal pernah berbicara dalam kancah nasional di era 70-an. Namun, tidak berlangsung lama. Saat ini, tanda-tanda kebangkitan film lokal mulai bergema.
Bermula dari film Bombe yang ditayangkan pada tahun 2014 yang berhasil mencuri perhatian sekitar 50 ribu penonton. Lepas dari segala keterbatasan dan kekurangannya, film tersebut mampu menjadi pembuktian jika karya anak bangsa dalam meramaikan industri perfilman nasional bisa lahir dari mana saja.
Kesuksesan film Bombe kemudian merangsang kreatifitas para sineas lokal untuk kembali menelorkan karya-karya baru. Dan sang sutradara, Rere Art2Tonic pun kembali membuat sequelnya, yakni Bombe II.
Rere, dalam sebuah kesempatan, berbincang-bincang dengan Berita Kota Makassar mengatakan, ide membuat film bisa lahir di mana saja. Ide kreatif Rere untuk berkreasi terus mengalir.
Berbeda dengan penggarapan film-film lain yang berpusat di Jakarta, Rere mengerjakan semua tahapan filmnya di Makassar. Ia melibatkan hampir semua kru film, mulai dari pemain hingga penata musiknya dari daerah ini.
Dia mengaku ide penggarapan filmnya mengalir begitu saja. Dengan kemahiran mengoperasikan sejumlah program komputer, Rere mengaku mempelajari dasar-dasar perfilman dalam waktu yang cukup singkat. Apalagi, komputer musik dan film itu hampir sama kerjanya. Semuanya berjalan menggunakan sequence.
Ide cerita, angle camera dan segala sense of art di film murni ide dari dalam hatinya tanpa pernah dipelajari sebelumnya.
Jika sebelumnya, film karya lokal tidak banyak diapresiasi, bahkan dilirik pun tidak, kehadiran film Bombe yang berhasil mencuri perhatian para penikmat film seolah menyentak para sineas di ibukota. Kesuksesan itupun diikuti dengan munculnya film-film baru besutan lokal.
Kendati mulai bergairah, namun Rere yang bernama lengkap Syahrir itu menilai, perfilman di Makassar belum bisa masuk dalam kategori industri film. ”Namun kita berharap, ke depan, dengan semakin bergairahnya perfilman di daerah ini, film-film yang digarap sudah bisa dimasukkan dalam industri,” katanya.
Produser Uang Panaik, Wahyudi Muchsin memang melihat ada angin segar dalam produksi film lokal. Jika momen ini dimanfaatkan sebaik mungkin para sineas daerah, tentu saja akan menjadi kebangkitan bagi industri film di Makassar.
”Sebenarnya, untuk mendapat tempat di hati masyarakat, baik film lokal maupun nasional, orang-orang yang terlibat dalam pembuatan film harus mengemas karya dengan apik. Dan yang paling penting adalah kekinian,” ujarnya. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top