Berita Kota Makassar | Memegang Teguh Budaya Sipalamban di Tengah Keluarga
Headline

Memegang Teguh Budaya Sipalamban di Tengah Keluarga

MERANGKAK dari bawah, Muslimin Bando tak pernah membayangkan akan menjadi seperti sekarang. Duduk sebagai orang nomor satu di Bumi Massenrempulu.

Laporan: Suherman Karim

MUSLIMIN kecil menempuh pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Buntu Tangla tahun 1963. Kisah penuh perjuangan nan mengharukan yang dialaminya ketika itu, ia ceritakan.
Saat itu, sebelum berangkat ke sekolah ia terlebih dahulu harus turun ke sawah untuk bertani dan mengurus ternak. Apalagi, Muslimin bersama keluarga dan masyarakat Buntu Tangla hidup di pengungsian. Lokasi penampungannya terletak di Kalosi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang.
Mereka mengungsi karena situasi tidak kondusif. Tengah berlangsung pergolakan dan perang yang melibatkan DI/TII, Pappang dari Toraja serta pasukan TNI Siliwangi.
”Waktu itu saya belum tamat SD. Masyarakat mengungsi karena keamanan pada saat itu tidak kondusif. Nanti setelah aman pada tahun 1965 baru kita kembali ke kampung,” kenangnya.
Sejak kecil, anak kedua dari 17 bersaudara ini sudah dikenal mandiri. Ketika masih menuntut ilmu, mulai dari SD hingga kuliah di perguruan tinggi, Muslimin sudah melakoni hidup dengan bertani. Ia juga beternak dan memelihara ulat sutra, hingga menjadi loper koran sewaktu kuliah di Makassar.
“Kami 17 bersaudara. Oleh bapak (H Bando), kami semua diajarkan untuk hidup mandiri,” ujar bapak empat anak ini.
Adik dari Kepala Perpustakaan Nasional RI, Syarif Bando ini menuturkan, bapaknya memiliki dua istri dengan 17 orang anak. Semuanya hidup rukun dan damai, layaknya seibu dan sebapak.
”Dalam keluarga, kami memiliki budaya sipalamban. Artinya, semua kakak membantu adiknya, terutama yang masih lemah. Sampai sekarang budaya itu masih kami pegang,” tuturnya.
Setamat kuliah di tahun 1981, Muslimin mencoba peruntungan dengan mendaftar sebagai pegawai negeri sipil (PNS) untuk profesi guru. Ia pun dinyatakan lulus dan ditempatkan mengajar di dua sekolah, yakni SMAN 229 Cakke yang sekarang SMAN 1 dan SMA Belajen (sekarang SMAN 1 Alla).
“Sambil menjadi guru, saya juga mengerjakan yang lain. Seperti bertani, beternak dan dagang hasil bumi. Melalui kegiatan usaha ini, saya berusaha memberdayakan teman-teman yang tidak bersekolah menjadi tenaga kerja,” terangnya.
Seiring perjalanan waktu, Pak Haji –sapaan akrab Muslimin Bando– dipercaya menjadi Kepala SMA Muhammadiyah Enrekang. Setelah kurang lebih 30 tahun di posisi ini, ia kemudian mendaftarkan diri maju sebagai calon bupati Enrekang pada tahun 2008.
Ketika itu Muslimin berhadapan dengan calon bupati petahana, La Tinro La Tunrung. Dari hasil pemilihan, La Tinro terpilih kembali untuk kedua kalinya dengan mengantongi 40 persen lebih suara. Sementara Muslimin meraih 30 persen lebih.
Kekalahannya ketika itu tak membuat Muslimin patah semangat. Diapun kembali maju untuk kedua kalinya pada tahun 2013. Hasilnya, ia terpilih memimpin Kabupaten Enrekang dengan mencatat kemenangan di semua kecamatan. Perolehan suaranya mencapai 57,28 persen.
Dalam perjalanan karirnya, Muslimin Bando pernah menjadi pemuda pelopor pembangunan tingkat nasional. Juga juara I nasional pada bidang koperasi tiga kali berturut-turut.
Sukses meraih pemuda pelopor pembangunan tingkat nasional, pada tahun 1986 Muslimin terpilih mengikuti program Pemuda Asia di Jepang, yang dikenal dengan nama Nakasone Program atau Program Persahabatan Indonesia-Jepang abad 21. Ia mendapatkan tiga penghargaan Nakasome, masing-masing diserahkan Soeharto, Habibie dan Gusdur.
“Eda kuissen kua lajidi bupatina.” Begitu kalimat penutup yang disampaikan Muslimin Bando dengan dialeg Duri-Enrekang. Artinya kurang lebih begini; saya tidak tahun kalau saya akhirnya jadi bupati. ”Itu semua terjadi atas izin Allah,” kuncinya. (*/rus/b)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top