Polisi Pukul Wartawan dan Mahasiswa – Berita Kota Makassar
Headline

Polisi Pukul Wartawan dan Mahasiswa

SINJAI, BKM — Oknum aparat Kepolisian Resort (Polres) Sinjai bertindak respresif saat berlangsung aksi massa di daerah ini, Jumat (4/11). Selain terhadap mahasiswa pengunjuk rasa, wartawan juga jadi sasaran pemukulan polisi.
Wartawan Harian Berita Kota Makassar yang bertugas di Kabupaten Sinjai, H Muh Syahidin dipukuli dua oknum polisi saat melaksanakan tugas jurnalistiknya. Saat kejadian pukul 15.35 Wita, Didin –sapaan akrab Muh Syahidin– mengenakan baju bertuliskan seragam Harian Berita Kota Makassar warna hitam kombinasi garis putih dan merah.
Akibat kejadian tersebut, Didin harus mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sinjai. Ia mengalami luka memar di bagian mata kiri, biji matanya memerah. Saat di RS, Didin merasa pusing dan mual. Petugas medis langsung memberikan pertolongan dan melakukan USG pada bagian perut yang diduga menjadi sasaran pemukulan.
Menurut penuturan Didin, sebelum kejadian, ia tengah meliput aksi demo yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Sinjai. Mereka mendesak agar Gubernur DKI Jakarta non aktf, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) diproses hukum terkait dugaan penistaan agama.
Aksi digelar di lampu merah Jalan Jendral Sudirman dan selanjutnya ke Mapolres Sinjai. Massa kemudian bergerak menuju DPRD untuk menyampaikan aspirasi.
Di gedung wakil rakyat, suasana sempat memanas. Massa mendesak untuk masuk ke gedung DPRD guna bertemu anggota dewan. Hanya saja mereka dihalangi aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Salah seorang mahasiswa, Asdar dalam orasinya meminta agar Ahok diproses hukum dan ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan penistaan agama.
Aksi massa ini awalnya berlangsung damai. Namun suasana tiba-tiba memanas, bahkan terjadi adu jotos antara Satpol PP dan mahasiswa. Tak lama kemudian anggota DPRD Sinjai keluar dan menemui pendemo.
Legislator dari Fraksi PPP, Andi Zainal Iskandar menyatakan mendukung adanya proses hukum terhadap kasus yang disuarakan mahasiswa. ”Kami sudah bersurat ke DPR RI. Kami mendukung adanya langkah-langkah hukum terhadap kasus ini,” kata Andi Zainal.
Meski sudah ditemui, mahasiswa tetap mendesak agar 30 anggota DPRD Sinjai keluar menemuinya. Namun tuntutan tersebut tak dipenuhi.
Akhirnya mahasiswa memaksa masuk untuk mencari anggota dewan yang ada di dalam kantornya dan diajak berorasi. Situasi pun tak terkendali. Polisi yang bertugas mengamankan jalannya aksi langsung bereaksi.
Mereka mengejar mahasiswa yang langsung lari berhamburan. Salah seorang mahasiswa yang berhasil ditangkap, langsung jadi sasaran pemukulan.
Didin yang tengah melakukan peliputan berusaha mengambil gambar tindakan represif polisi terhadap mahasiswa. Tanpa ia sangka-sangka, tiba-tiba dari arah belakang datang seseorang yang langsung memukuli punggungnya. Tidak lama berselang, dari arah depan datang lagi satu orang dan memukul Didin.
”Yang memukul saya dari belakang memakai baju kaos warna putih dengan lengan berwarna abu-abu. Ada tulisannya polisi. Sementara yang memukul dari depan mengenakan baju kaos warna hitam. Juga ada tulisan polisi. Saya kenali keduanya, karena biasa saya lihat kalau ada tugas di polres,” kata Didin sambil meringis menahan rasa sakit di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Sinjai.
Pemimpin Redaksi Berita Kota Makassar, Muh Arsan Fitri mengecam tindakan oknum polisi yang memukul wartawannya saat meliput aksi demo penistaan agama di Sinjai. Menurut Arsan, oknum polisi tersebut telah melanggar Undang-undang Pers No 40 Tahun 1999 karena menghalang-halangi wartawan dalam mendapatkan informasi.
“Pada Pasal 4 UU Pers ayat (3) disebutkan untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Dimana pada pasal 18 ayat (1) dijelaskan bahwa setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) diancam pidana penjara,” jelas Arsan.
Oleh karena itu, Arsan mendesak Kapolda Sulsel dan Kapolres Sinjai mengusut kasus ini. “Wartawan kami saat bertugas menggunakan identitas. Ia menggunakan baju seragam Berita Kota Makassar saat meliput aksi demo. Jadi tidak mungkin aparat kepolisian tidak mengenalnya. Kalaupun ia warga biasa, juga tidak dibenarkan melakukan pemukulan,” tegas Arsan.
“Oleh karena itu, kami meminta institusi kepolisian menyampaikan permohonan maafnya,” tambah Arsan.
Jurnalis Peduli Sinjai (JPS) langsung juga terhadap kejadian yang dialami salah satu anggotanya. Syamsuddin, pengurus JPS menegaskan bahwa lembaganya akan menempuh jalur hukum terkait pemukulan Didin.
”Kita akan laporkan kasus ini ke polisi. Kalau memang tidak ditanggapi, kita gelar aksi,” kata Syamsuddin.
Dia juga memastikan kalau yang memukul Didin adalah oknum polisi. Sebab, wartawan Harian Rakyat Sulsel (Fajar Group) ini juga tengah melaksanakan tugas peliputan saat kejadian berlangsung.
Pemukulan terhadap wartawan di Sinjai, disesalkan Ketua Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulsel, Abdullah Rattingan. Lembaga ini bahkan berjanji untuk memberikan pendampingan terhadap korban kekerasan polisi, setelah mendapatkan kronologis kejadian.
”Kami minta korban agar melapor dan menjelaskan kronologisnya. Setelah itu, PJI akan melakukan koordinasi secara internal sebelum mengambil sikap terhadap kasus ini,” kata Dul, sapaan akrabnya.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Makassar, Aqam Qadriansyah juga mengecam tindakan aparat yang melakukan kekerasan terhadap jurnalis di Sinjai. Ia mendesak Polda Sulsel segera menanganidengan serius kasus ini.
“Tindak kekerasan jurnalis di Sinjai ini menambah daftar kebrutalan aparat terhadap pekerja pers,” kata Aqam, kemarin.
Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Frans Barung Mangera yang ditemui di kantor gubernur sesaat setelah mengamankan aksi demo, mengaku belum mendapat laporan wartawan dipukul di Sinjai. Diapun segera menghubungi lewat ponselnya Kapolres Sinjai, AKBP Agus Dwi Hermawan.
Sesaat setelah ditelepon oleh Frans Barung, Agus langsung datang ke RSUD Sinjai dan menemui Didin. Dihubungi melalui telepon selular, Jumat (4/11) petang, Kapolres berjanji akan mengusut kasus ini.
”Untuk sementara korban masih dilakukan perawatan di RS. Saat ini kita belum tahu siapa yang melakukan pemukulan. Karena tadi (kemarin) itu situasinya chaos. Banyak masyarakat yang berkumpul. Ada pula Satpol PP. Yang pasti, kita akan usut siapa pelakunya,” kata Agus.
Disinggung pengakuan Didin mengenal kedua orang yang memukulnya sebagai anggota Polres Sinjai, sekali lagi Agus berjanji untuk mengusutna. ”Jika memang ada anggota yang terbukti melakukan pemukulan, pasti kita proses sesuai aturan yang berlaku,” tandasnya.
Hingga malam tadi, Didin masih menjalani perawatan intensif di ruang UGD. Ia mendapat banyak simpati dan kunjungan dari para koleganya serta masyarakat Sinjai. (din/rus/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top