Massa Rusak Gedung DPRD Sulsel – Berita Kota Makassar
Headline

Massa Rusak Gedung DPRD Sulsel

MAKASSAR, BKM — Aksi damai warga Makassar yang menuntut agar Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuk Tjahaja Purnama agar diproses hukum terkait dugaan penistaan agama, ternoda. Sekelompok massa yang mengatasnamakan dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang menggelar demo di pelataran gedung DPRD Sulsel melakukan tindakan anarkis. Mereka merusak fasilitas gedung wakil rakyat.
Saat aksi berjalan 15 menit, salah seorang pendemo naik ke lantai 2 dan langsung melayangkan tendangan ke pintu utama, Jumat (4/11) sore. Akibatnya, pintu utama lantai dua pecah dan kacanya terlihat berhamburan.
Tak hanya itu, salah seorang mahasiswa juga ditengarai membawa senjata tajam dan ingin melukai anggota kepolisian. Namun pelaku pengrusakan dan yang membawa senjata tajam cepat diamankan oleh teman-temannya. Polisi yang bertugas dibantu anggota TNI tak ingin ambil risiko dengan hanya melihat kejadian tersebut.
Ketua DPRD Sulsel, HM Roem turun langsung menerima aksi massa HMI. Roem juga tidak kesal atas aksi pengrusakan yang dilakukan massa.
“Kita mendorong agar siapapun di republik ini yang terkait masalah hukum harus diproses. Terima kasih adik-adik dari Badko HMI Sulselbar, HMI Makassar Timur, HMI Makassar Raya dan HMI Gowa Raya. Dan yang menerima Ketua KAHMI Sulsel,” ujar Roem disambut tepuk tangan.
Roem menambahkan, hari Senin mendatang Ahok akan diperiksa di Bareskrim Mabes Polri. Karena itu, apa yang menjadi aspirasi masyarakat sudah ditanggapi aparat kepolisian di Jakarta.
Sebelumnya, HM Roem ditemani sejumlah anggota DPRD Sulsel menyambut pendemo di depan kantor DPRD Sulsel usai salat Jumat. Roem larut dalam aksi dengan naik ke atas truk terbuka. Mantan Bupati Sinjai dua periode ini juga menginginkan adanya penegakkan hukum terkait dugaan penistaan agama. “Penyampaian aspirasi adalah hak setiap warga negara. Jangan ada yang terpecah belah. Jangan ada kepentingan lain yang menunggangi,” ujarnya Roem yang juga Ketua Harian Golkar Sulsel ini.
Selain di gedung DPRD, konsentrasi massa juga terlihat di bawah jembatan flyover, kantor gubernur Sulsel Jalan Urip Sumoharjo dan depan kantor BPK RI Perwakilan Sulsel di Jalan AP Petta Rani.
Sedikitnya 20 ribuan massa mengakhiri aksinya di depan kantor gubernur sekitar pukul 14.15 Wita. Gabungan massa dari berbagai ormas Islam di Sulsel itu mengatasnamakan Forum Umat Islam Bersatu . Sebelumnya, merekaberjalan kaki dari titik demo di flyover.
Mereka berorasi diatas mobil tronton yang memang dipersiapkan untuk demo. Sambil berorasi, puluhan perwakilan diterima oleh pada muspida dan pejabat terkait di Ruang Rapat Pimpinan.
Perwakilan pendemo diterima Sekretaris Provinsi Sulsel Abdul Latif, Wakapolda Sulsel Brigjen Pol Gatot Edy, Ketua DPRD Sulsel HM Roem, Kepala Badan Kesbang Sulsel Asmanto Baso Lewa, Kasatpol PP Iqbal Suhaeb dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel Abdul Wahid Tahir.
Ada beberapa poin yang menjadi tuntutan para pendemo. Salah satu yang paling krusial adalah mengadili Ahok dan memprosesnya secara hukum atas dugaan penistaan agama. Mereka mendesak pemerintah tidak melakukan pembiaran terhadap kasus ini.
Para pendemo mengancam, jika aspirasinya tidak diindahkan, dua minggu ke depan mereka kembali akan menggelar aksi unjuk rasa yang lebih besar.
Kendati sudah diterima sejumlah muspida dan perwakilan dari Pemprov Sulsel, para pendemo tetap bersikukuh agar Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo langsung menemui mereka.
Sambil menunggu kedatangan Sang 01 Sulsel, para pendemo menunaikan salat Ashar berjamaah di tengah Jalan Urip Sumoharjo, tepat di depan kantor gubernur.
Syahrul pun akhirnya memenuhi keinginan para pendemo. Dia tiba di tengah-tengah pegunjuk rasa sekitar pukul 15.30 Wita. Dia langsung menaiki tronton tempat para pendemo berorasi. Selama lima menit, Syahrul berorasi.
Dia menyampaikan terima kasih karena aksi unjuk rasa yang digelar ormas Islam tersebut berjalan tertib dan damai. Dia berjanji akan menyampaikan aspirasi mereka sesegara mungkin ke Presiden dan Wakil Presiden.
“Tidak sampai besok, paling lambat nanti malam, aspirasi saudara-saudaraku sekalian sudah sampai ke Presiden dan Wakil Presiden,” kata Syahrul diikuti gema takbir para pengunjuk rasa.
Sejumlah ormas Islam yang ikut berunjuk rasa kemarin diantaranya Front Pembela Islam (FPI), Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah, Hidayatullah, hingga beberapa pesantren, sekolah Islam dan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Salah seorang mantan aktifis era reformasi tahun 1998, Selle KS Dalle melihat aksi demonstrasi yang digelar kemarin ruhnya hampir sama dengan aksi demo tahun 1998 lalu. Ini dipicu dari keprihatinan masyarakat yang kecewa sehingga melakukan gerakan bersama agar aspirasi mereka didengarkan. Pergerakan yang dilakukan 4 November menurut Selle, bukan semata gerakan umat Islam melainkan seluruh masyarakat Indonesia.
“Negara kita menganut prinsip demokrasi. Ketika ada yang dinilai mengganggu tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, secara demokratis persoalan itu disuarakan. Itu yang menjadi tuntutan gerakan hari ini (kemarin),” ungkapnya kepada BKM.
Pria yang saat ini tercatat sebagai anggota DPRD Sulsel itu, berharap semoga pemerintah bisa mendengar secara cermat dan menindaklanjuti apa yang disuarakan rakyat secara utuh. Pasalnya, jika pemerintah tidak menangkap roh aspirasi masyarakat dengan baik, tidak menutup kemungkinan akan berkembang ke isu lain.
“Jadi ini sangat tergantung bagaimana pemerintah menangani,” pungkas Selle.
Mantan aktivis mahasiswa era 98 lainnya, Wahab Tahir tidak menampik banyaknya massa yang turun ke jalan menuntut agar Ahok diproses hukum. Namun, Ketua Komisi A DPRD Makassar ini melihat segmen isu yang diusung berbeda dengan tahun 1998.
”Waktu 98 itu yang dituntut agar Pak Harto turun. Sedangkan hari ini tuntutannya agar Ahok diadili. Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan atas dugaan terjadinya penistaan agama,” kata legislator Partai Golkar ini.
Ia juga menuturkan, massa yang terlibat di tahun 98 didominasi mahasiswa. Sementara demo soal Ahok dilakukan umat Islam di Indonesia.
”Karena itu saya meminta pemerintah untuk bersikap atas kasus ini. Jangan diam, karena akan terus berlanjut jika disepelekan,” kata Wahab mengingatkan.
Sedikitnya 3.000-an personel gabungan mengamankan jalannya aksi massa. Sebelum ke lapangan, mereka dikumpulkan dan mendengar pengarahan langsung dari Kapolda Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan. Ia meminta kepada jajarannya untuk melakukan pengamanan secara humanis tanpa ada gesekan.
”Kita harus melakukan pelayanan yang humanis. Semua harus bisa menahan diri. Tidak boleh ada gesekan. Bagaimanapun kita semua bersaudara,” kata Anton.
Sebelum menggelar aksi, massa melakukan salat berjamaah di Masjia Al-Markaz Al-Islami. Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto hadir di tengah-tengah para jamaah. Dia mengimbau agar semua pihak menjaga situasi dan stabilitas di Makassar.
”Mari kita jaga Makassarta. Apa yang kita lakukan adalah kebenaran. Namun yang perlu dijaga adalah akidah kita sebagai umat Islam,” ujar Danny.
Wakapolda Sulsel, Brigjen Pol Gatot Edy Pramono juga meminta pendemo untuk menahan diri. ”Kita berjalan ke kantor gubernur secara damai. Apa yang kita tuntut sudah diproses Mabes Polri. Percayakan penanganannya ke pihak kepolisian,” tandasnya.
Kekhawatiran akan terjadinya penyusupan dalam aksi massa ini sempat mencuat. Tiga orang yang diindikasikan sebagai provokator diamankan aparat TNI dari Koramil 1408-03 Wajo.
Ketiganya langsung digelandang ke markas Koramil guna menjalani pemeriksaan. Mereka berinisial FJ (14), MA (14) dan MR (14). Ketiganya masih merupakan pelajar salah satu SMP swasta di kota ini.
Sebelumnya, salah satu komplotan pelajar ini bersama 15 orang yang mengendarai lima motor sambil berboncengan, berkonvoi melintas di Jalan Kapoposan, Kecamatan Bontoala. Mereka berteriak-teriak hingga mengundang perhatian warga. Beruntung, aksi remaja tersebut berhasil dihentikan petugas TNI.
Dari hasil interogasi, ketiganya mengaku disuruh oleh seseorang yang tak dikenalinya bernama Tono. ”Saya disuruhji juga oleh orang bernama Tono. Dia belikan saya bensin lalu disuruh teriak-teriak,” beber salah seorang remaja tersebut.
Setelah tangki motornya diisi penuh, mereka kemudian berkonvoi berkeliling sesuai rute yang telah diperintahkan. Masing-masing Jalan Andalas, Yos Sudarso, Cakalang, Lembo, Dr Wahidi, Irian dan Timor. Konvoi berakhir saat melintas di depan Klenteng Kwang Kong Jalan Sulawesi.
Kapolsek Wajo, Kompol Choiruddin mengaku masih menginterogasi ketiga remaja tersebut. ”Kasusnya masih lidik. Kita ingin mengetahui apakah mereka kenal dengan orang yang menyuruhnya itu,” ujar Choiruddin.
Dikatakan, ketiga remaja tersebut awalnya diamankan oleh personel Koramil 1408-03/Wajo lalu diserahkan ke polisi untuk diproses. Mereka menggunakan motor Honda Beat DD 5911 QK, yang kini telah diamankan polisi. (rhm-jun-ish/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top