Jadi Nelayan Setamat SMP, Pernah Tenggelam di Teluk Bone – Berita Kota Makassar
Headline

Jadi Nelayan Setamat SMP, Pernah Tenggelam di Teluk Bone

BKM/IRWAN MUSA Andi Muharir

TAK akan berubah kehidupan seseorang bila bukan dia sendiri yang mengubahnya. Ungkapan bijak itu dipahami betul oleh Andi Muharir yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Luwu.

Laporan: Irwan Musa

SEBAGAI seorang politisi Partai Golkar, apa yang diraih Andi Muharir saat ini tidaklah semudah membalik telapak tangan. Semua ia rintis dari sebuah keniscayaan, namun mampu dibuktikannya di kemudian hari. Dua periode kini ia menjadi wakil rakyat dari daerah pemilihan (dapil) I Luwu.
Ditemui di ruang kerjanya, ia bersedia berbagi suka dan duka dengan BKM tentang perjalanan hidupnya, dari yang tidak memiliki apa-apa hingga memimpin lembaga terhormat di DPRD.
Kisah dimulai dari pekerjaannya sebagai seorang nelayan. Menekuni profesi ini mengharuskan ia lebih banyak berada di tengah lautan. Mengais rezeki dengan mencari serta menangkap ikan.
Tak disangka-sangka, ternyata Andi Muharir pernah mengalami kejadian yang menjadi risiko terberat seorang nelayan, yaitu tenggelam.
”Waktu itu saya berada di Teluk Bone. Kapal yang kami pakai melaut dihantam gelomban tinggi. Akibatnya, kapal kami tenggelam dan penumpangnya terombang ambing hingga ditemukan dan diselamatkan nelayan lain,” tuturnya mengenang.
Diakui, pekerjaan sebagai nelayan cukup keras. Muharir bahkan harus melaut hingga ke perairan Kepulauan Selayar. Hasil tangkapannya kemudian ia jual di Palopo dan Murante, Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu.
Menurut pengakuan Andi Muharir, profesi sebagai nelayan ia geluti sejak tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pertama kali ia mendapat posisi sebagai anak buah kapal (ABK). Karena ketekunannya sebagai ABK, dia dipercaya sebagai juru masak kapal (koki), hingga akhirnya ditunjuk sebagai nakhoda
Seiring perjalanan waktu, pemilik kapal memberinya amanah sebagai kepala kamar mesin (KKM) di kapal ikan yang sama. Saat itulah musibah datang menimpa. Kapalnya tenggelam dihantam badai dan ombak ketika berada di Teluk Bone.
Setelah melalui perjalanan yang panjang penuh lika liku, di tahun 1987 Andi Muharir banting setir. Ia mengikuti jejak langkah ayahnya yang seorang politisi dan anggota DPRD Luwu periode 1982-1987 dari Partai Golkar.
Awal mula dirinya berkiprah di Partai Golkar atas dorongan sang ayahnya. Diapun tertarik untuk menambah pengalaman dan wawasan hidup di jalur politik.
Tapi tidak sepenuhnya Andi Muharir berada di dunia politik ketika itu. Ia tak lupa dengan profesi awalnya sebagai seorang nelayan.
Usaha kapal coba dirintisnya. Saat itu kondisi keuangannya belumlah terlalu mapan.
Perlahan namun pasti, usaha tersebut berbuah hasil. Di tahun 1997, ketika Bupati Luwu dijabat Kamrul Kasim, Andi Muharir menorehkan prestasi sebagai pengusaha ikan yang sukses mengembangkan usaha di sektor perikanan. Ia kemudian diganjar dengan penghargaan dari bupati.
Seiring sukses yang diraih, Andi Muharir juga mencatatkan diri menjadi seorang politikus yang patut diperhitungkan di Luwu. Pada tahun 2002 ia diutus oleh Partai Golkar mengikuti jambore pengkaderan AMPG di Cibubur, Jakarta.
Semuanya kemudian melaju dengan cepat setelah jembore. Muharir kian aktif di berbagai organisasi kepemudaan, baik di AMPI, KNPI hingga organisasi sepakbola, PSSI. Ia bahkan dipercaya menjabat Ketua AMPG Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu hingga didaulat selaku Ketua AMPG Luwu hingga saat ini.
Atas loyalitas dan pengabdiannya di berbagai organisasi kepemudaan maupun Partai Golkar, dia lagi-lagi mendapat kepercayaan menjadi Pimpinan Kecamatan (Pimcam) Partai Golkar Suli untuk periode tahun 2004-2009.
Masih di periode tahun yang sama, dirinya mencoba kembali menapak karir politiknya berjuang untuk menjadi anggota legislatif. Namun, Dewi Fortuna belum berpihak kepadanya.
”Saat itu saya gagal terpilih sebagai anggota dewan. Tapi kegagalan itu saya jadikan penyemangat untuk memperbaiki karir politik saya,” ujarnya.
Selanjutnya, pada periode tahun 2009-2014. Muharir kembali bertarung untuk memperoleh kursi di legislatif asal Dapil I Luwu. Kali ini ia berhasil dan menjadi anggota DPRD Luwu untuk pertama kalinya.
Proses panjang di periode pertama dirinya terpilih sebagai anggota legislatif, membuat Andi Muharir tertantang untuk menyerap berbagai aspirasi masyarakat yang diwakilinya. Tidak mengherankan, masyarakat di dapil I Luwu kembali memberi amanah kepadanya untuk menjadi anggota DPRD Luwu di pemilu legislatif periode 2014-2019.
”Di periode kedua sebagai anggota legislatif saya mengemban amanah dari Partai Golkar sebagai ketua DPRD Luwu. Alhamdulillah,” kata ayah dua putra dan tiga putri ini.
Penggalan perjalanan hidupnya begitu sulit ia lupakan. Kerasnya kehidupan membuat dirinya matang dalam berpikir dan bertindak. Ia menilai, tidak semua apa yang sudah direncanakan bisa terwujud dengan mulus. Kadangkala jatuh dan jatuh lagi, hingga kemudian berusaha bangkit dan berdiri tegak.
Dalam menghadapi proses hidup, kata Muharir, memang butuh mimpi-mimpi. Namun, dalam mewujudkan mimpi itu pasti banyak tantangan dan kerikil tajam. ”Pada prinsipnya tuluslah berbuat. Tetaplah bersujud dan optimis menghadapi tantangan hidup,” jelasnya.
Begitu pula dalam meniti karir di bidang politik. Saat mengarungi ketat dan kerasanya persainga, seseorang kadang diperhadapkan pada situasi yang tak jarang bertentangan dengan hati nurani. Namun sebagai kader partai, tentu sudah menjadi kewajiban untuk melaksanakan perintah marwah dan kebijakan oartai.
”Saya sering menghadapi kondisi yang paling buruk dalam dunia politik. Benar kata orang orang bahwa tak ada lawan dan kawan sejati. Yang ada adalah kepentingan politik. Meski begitu, dalam berpolitik tentu ada etika yang harus dikedepankan. Ada amanah masyarakat yang harus diperjuangan. Suka dan duka dunia politik saya olah sebagai energi untuk diri saya menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat,” paparnya.
Prinsipnya, kata dia, tak ada pelaut yang ulung lahir dari ombak yang teduh. Semua pelaut ulung lahir dari ombak yang ganas. ”Sama dunia politik. jika kita tidak mampu memilah konstalasi dunia politik, tentu akan terseret oleh kepentingan politik itu sendiri. Makanya, sangat penting menggunakan filter sebagai penyeimbang diri kita saat menapaki karir di dunia politik,” tandasnya. (*/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top