Berita Kota Makassar | Kepala Pasar Sudah Habiskan Uang Hasil Pungli
Headline

Kepala Pasar Sudah Habiskan Uang Hasil Pungli

MAKASSAR, BKM — Laesa Manggong, Kepala Pasar Pa’baeng-baeng bagian Timur yang menjadi tersangka kasus pungutan liar (pungli) penjualan lods, ternyata telah menerima uang pembayaran dari pedagang sebesar Rp25 juta. Uang tersebut diakui telah dihabiskannya untuk kepentingan pribadi.
Pembayaran sebesar itu diperoleh dari sembilan orang pedagang. Setiap lods yang dibangun di lahan parkir menggunakan baja ringan itu dijual dengan harga Rp25 juta.
Hingga kemarin, penyidik Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) yang menangani kasus ini masih terus melakukan pemeriksaan intensif terhadap LM.
Direktur Dirkrimsus Polda Sulsel melalui Wakil Direktorat Kriminal Khusus (Wadirkrimsus), AKBP Yuliar Kus Nugroho menjelaskan, dari hasil pemeriksaan terhadap LM, diketahui ai telah menjual sembilan unit lods dari 34 lods yang sudah dibangun. Uang pembayaran dari penjualan tempat tersebut yang dibayarkan sebesar Rp9 juta per lods, tidak disetorkan.
”Kami masih dalami kasusnya. Tersangka masih dalam proses pengembangan. Sudah ada sembilan lods yang terjual. Uang hasil penjualannya tidak disetor dan telah dihabiskan oleh tersangka,” terang Yuliar, Jumat (28/10).
Perwira dua melati di pundaknya yang pernah menjabat Kapolda Bone itu, menjelaskan telah ada unsur penyimpangan dalam kasus ini karena tersangka mengaku tidak menyetorkan uang yang diterimanya.
Menurut Yuliar, tersangka diduga menetapkan harga penjualan lods sebesar Rp25 juta. Namun yang dibayarkan per lods baru Rp9 juta, karena itu merupakan kewajiban pedagang.
Pada saat bersamaan, Kejari Makassar juga mengusut kasus penjualan lods di Pasar Pa’baeng-baeng. Yuliar mengaku baru mengetahui kalau kasus ini juga ditangani Kejari Makassar.
”Saya baru tahu kalau tersangka LM ini juga pernah diperiksa di kejaksaan. Untuk itu kami akan lakukan kordinasi. Tapi kemungkinannya dalam kasus lain, karena kasus ini merupakan temuan baru,” kata Yuliar.
Kejari Makassar sendiri masih terus melanjutkan pengusutan terhadap kasus dugaan penjualan lods Pasar Pa’baeng-baeng. Penyidik tetap ngotot melakukannya, sekalipun pihak polda telah menetapkan satu orang tersangka.
“Kasusnya tetap akan kita tangani dan tetap kita lanjutkan pengusutannya,” tegas Kepala Kejari Makassar, Deddy Suwardy Surachman, Jumat (28/10).
Menurut Deddy, kasus yang diusut polda adalah pungli retribusi, sedangkan pihaknya mengusut penjualan lodsnya. Informasi yang diperolehnya, pungutan retribusi dari pedagang sebesar Rp21 ribu per hari. Padahal retribusi resmi yang dikeluarkan pemerintah hanya Rp5 ribu.
”Yang diusut Kejari adalah penjualan lods oleh oknum pengelola, dengan harga antara Rp25 juta untuk lods bagian belakang dan Rp40 juta untuk lods bagian depan,” terangnya.
Penyidik Kejari terus melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pihak yang diduga memiliki keterlibatan dalam jual beli lods itu. Bahkan dalam waktu dekat akan meningkatkan kasus tersebut ke tahap penyidikan. Deddy menegaskan bila pihaknya tidak akan main-main dalam menuntaskan kasus itu, “Nanti kita lihat. Siapapun yang terbukti bersalah dalam kasus ini pasti ditetapkan jadi tersangka,” tegasnya.
Ketua Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Indonesia (LKBHMI) Makassar, Habibi Masdin, sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan Kejari Makassar dalam mengusut kasus ini.
Terkait perkara yang sama ditangani oleh dua institusi hukum, Habibi menyatakan bahwa sebaiknya bisa saling bersinergi. Bukan persoalan siapa yang lebih dulu menetapkan tersangka, melainkan mampu tidaknya kasus tersebut diusut tuntas.
“Jangan sampai gara-gara saling ngotot, akhirnya kasus ini jadi tidak jelas,” ujarnya.
Intinya, tambah dia, bukan lebih kepada siapa yang lebih duluan menetapkan tersangka. Melainkan lebih kepada pembuktian dan barang bukti yang ditemukan. Sebab barang buktilah yang akan dijadikan alat bukti di persidangan, apakah tersangka nantinya bersalah atau tidak.
“Penetapan tersangka kan harus didukung dengan minimal dua alat bukti. Apalagi ini menyangkut kasus korupsi, bukti-buktinya harus kuat,” tandasnya.
Dihubungi terpisah, Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Makassar Raya, Rahim Bustan akhirnya angkat bicara menyikapi permasalahan Pasar Pa’baeng-baeng bagian Timur.
Ia menjelaskan, sebelumnya telah mendapat laporan dari Kepala Pasar Pa’baeng-baeng Timur, Laesa Manggong nomor 05/PPB-T/Vll/2016. Laporan tersebut terkait rencana untuk mendirikan kios petak di atas lahan parkir, tepatnya area depan front toko. Lahan yang digunakan seluas 4×68 meter. Bahan yang digunakan untuk mendirikan 34 petak kios itu berupa spandek dan rangka baja ringan.
“Jadi ada 34 petak yang didirikan di atas lahan parkir dan hanya semipermanen. Itu digunakan untuk pedagang senja, seperti pedagang sayur dan ikan. Kalau pagi digunakan untuk parkiran,” terang Rahim Bustan, kemarin.
Dia mengaku, dirinya sama sekali tidak pernah menjual kios petak kepada pedagang. Hanya saja, dia memberlakukan kontribusi awal atau jasa sewa kepada para pedagang yang ingin menggunakan kios petak, dengan harga Rp9.200.000 per kios.
Meski begitu, bukan berarti para pedagang yang telah membayar jasa awal sudah tidak lagi mendapat retribusi. Tetapi para pedagang juga harus memenuhi kewajiban dengan membayar jasa harian sebesar Rp5 ribu, dan jasa produksi pedagang per bulan Rp20 ribu serta memiliki kartu pedagang yang dikeluarkan PD Pasar Makassar Raya.
“Jadi kalau sudah membayar jasa sewa, pedagang berhak menempati kios petak atau pelataran selama 20 tahun. Namun ketika selama tiga kali teguran para pedagang tidak membayar jasa harian dan produksi, kios atau tempat disegel. Pedagang juga tidak memiliki hak milik, hanya hak pakai,” jelasnya.
Rahim mengklaim dirinya sama sekali tidak pernah menerima uang dari kontribusi awal para pedagang untuk sewa kios petak. Ia juga belum mengetahui jumlah pedagang yang telah membayar.
“Saya tidak pernah terima uang dari kontribusi sewa kios petak, dan belum tahu berapa jumlah pedagang yang sudah membayar. Kalau terkait pemeriksaan, iya saya sempat diperiksa oleh Kejari Makassar, tetapi hanya dimintai keterangan terkait fasum di Pasar Pa’baeng-baeng,” akunya.
Kepala Pasar Pa’baeng-baeng yang ditangkap, Laesa Manggong, kata Rahim Bustan telah diberhentikan dari jabatannya. Tujuannya untuk memberikan efek jera dan pembelajaran kepada para pegawai PD Pasar Makassar Raya lainnya.
Rencananya, Rahim juga ingin membongkar kios 34 petak yang menggunakan anggaran sebesar Rp124 juta dari PD Pasar Makassar Raya. Diapun menyatakan tidak ingin memberikan mengganti rugi berupa uang kepada pedagang yang telah membayar jasa sewa kios kepada Laesa Manggong.
“Saya sudah berhentikan itu Kepala Pasar Pa’baeng-baeng dari jabatannya. Dia baru menjabat tiga bulan. Kios petak itu juga saya mau bongkar, dan tidak mau mengganti rugi uang kepada pedagang yang telah membayar retribusi,” tandasnya. (ish-mat-arf/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top