Headline

Kepala Pasar Tertangkap Pungli Penjualan Lods

MAKASSAR, BKM — Tim Satuan Tugas Operasi Tangkap Tangan (Satgas OTT) Direktorat Kriminal Umum (Ditrkimum) Polda Sulsel menangkap Laesa Manggong (45), Kepala Pasar Pa’baeng-baeng bagian Timur. Ia diduga terlibat praktik pungutan liar (pungli) penjualan lods pasar.
Penangkapan berlangsung Kamis (27/10) pagi. Awalnya, Satgas OTT menyasar dugaan praktik pungli retribusi pedagang di pasar ini. Namun dalam perkembangannya di lapangan, tim menerima informasi dari sejumlah pedagang adanya prakti pungli dalam bentuk lain.
Disebutkan, ada pedagang yang telah membayar sebesar Rp9,5 juta hingga puluhan juta kepada kepala pasar untuk mendapatkan lods untuk berjualan. Hanya saja, pembayaran tersebut tidak sertai dengan kuitansi. Sedikitnya sudah ada sembilan pedagang menyetor uang dengan jumlah yang bervariasi. Direktur Ditkrimum Polda Sulsel, Kombes Pol Erwin Sadma menjelaskan penangkapan terhadap Laesa Manggong yang diinisialkan sebagai LM di mapolda, kemarin siang. Dikatakan, sesaat setelah ditangkap, LM langsung digelandang ke mapolda untuk menjalani pemeriksaan lebih mendalam.
”Sebelum dilakukan penangkapan, Satgas OTT terlebih dahulu melakukan penyelidikan. Dimulai dari kolektor yang melakukan penarikan retribusi harian terhadap pedagang. Namun petugas mendapati retribusi yang ditarik oleh kolektor masih dalam kewajaran,” jelas Erwin.
Penyelidikan polisi tak berhenti sampai disitu. Setelah menemui kolektor pemungut retribusi pasar, Satgas OTT mendatangi pedagang yang menempati lods Pasar Pa’baeng-baeng. Dari sini diperoleh informasi serta keluhan.
Pedagang banyak mengeluhkan penjualan lods yang dibangun menggunakan rangka baja ringan dengan harga Rp25 juta. Padahal ukurannya hanya 1,5×1,5 meter.
”Para pedagang mengaku sangat dirugikan. Mereka sudah ada yang membayar Rp9,5 juta dari harga per lods senilai Rp25 juta. Namun anehnya, pedagang yang telah membayar Rp9,5 juta ke LM tidak mendapatkan kuitansi,” terang Erwin.
Mendapat aduan seperti itu, tim satgas langsung berkoordinasi dengan pihak PD Pasar Makassar Raya. Namun direksi perusahaan milik Pemkot Makassar itu membantah telah menerima setoran untuk penjualan lods.
Akhirnya, tim Satgas menangkap LM yang saat itu berada di kantor Pasar Pa’baeng-baeng. Ikut pula disita sejumlah barang bukti, seperti dokumen SK pengangkatan hingga denah pasar.
Jika mengacu kepada aturan PD Pasar, harga satu lods di Pasar Pa’baeng-baeng sebesar Rp20 juta. Namun oleh LM, jika pedagang membeli dua lods sekaligus, harganya dinaikkan menjadi Rp45 juta, dari seharusnya Rp40 juta. Artinya, LM mendapatkan keuntungan Rp5 juta.
”Dari hasil pemeriksaan sementara terhadap LM, uang Rp9,5 juta itu tidak disetorkan ke negara. LM menjual satu lods antara Rp25 juta hingga Rp30 juta,” beber Erwin.
Dari 34 lods yang tersedia, LM telah menjual sembilan unit diantaranya. Yang ironis, karena harga lods ukuran 1,5 meter x 1,5 meter sebenarnya Rp750 ribu dan nilai bangunan Rp2.250.000. Namun kemudian dijual ke pedagang dengan harga Rp25 juta per lods.
Sebelumnya, di tahun 2015 lalu, LSM telah melakukan penjualan tiga unit lods. Hal ini masih didalami Tim Satgas OTT.
”LM telah kita tetapkan sebagai tersangka tunggal dalam kasus ini. Tiga orang stafnya yang sudah dimintai keterangan, mengaku menyetorkan semua uang pembayaran kepada LM. Enam saksi lainnya yang merupakan pedagang juga telah kita mintai keterangannya,” jelas Erwin.
LM telah diserahkan ke Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) untuk pengembangan lebih lanjut. Termasuk yang terkait penyetoran pembayaran uang lods ke rekening LM.
Atas perbuatannya, tersangka LM bakal dijerat Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pasal 3e tentang penyalahgunaan jabatan dengan ancaman hukuman 5 tahun paling tinggi 15 tahun. (ish/rus)


Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top