CRC: Bur-Nojeng Sulit Dikalahkan – Berita Kota Makassar
Politik

CRC: Bur-Nojeng Sulit Dikalahkan

BKM/ARI IRAWAN Calon Bupati Takalar, Burhanuddin Baharuddin bersama masyarakat Kelurahan Parangluara, Kecamatan Polongbangkeng Utara. Burhanuddin menghadiri acara budaya Appalili jelang tanam padi.

MAKASSAR, BKM–Meski Calon Bupati Takalar petahana Burhanuddin Baharuddin diterpa isu tersangka dalam kasus pemberian izin prinsip penjualan lahan negara di Desa Laikang, namun pasangan petahana Bur-Nojeng masih sulit dikalahkan.
Isu tersebut dihembuskan bertepatan dengan pengambilan nomor urut pasangan, Selasa lalu. Kendati menyisakan waktu kurang lebih tiga bulan lagi, isu tersebut ditengarai sulit mendowngrading elektabilitas petahana yang berjarak cukup jauh dengan sang penantang, Syamsari Kitta-H Ahmad Dg Se’re (SK-HD). Hal tersebut dikemukakan Manager Riset Celebes Research Center (CRC), Andi Wahyudin, Kamis (27/10). “Walaupun isu ini terus digoreng oleh penantang Bur-Nojeng, di waktu yang tersisa sulit membalikkan dukungan pemilih lebih dari 50 persen. Berdasarkan data kami di akhir Agustus, strong voters petahana lebih dari 52 persen,” ujar Wahyudin kemarin.
Menurutnya, kondisi politik di Takalar juga sangat menguntungkan sang petahana. Dengan cuma adanya dua pasangan calon yang bertanding, kompetitor seraya tak punya bantuan untuk melakukan kerja-kerja politik kecuali dengan dayanya sendiri. “Kasus ini kan mirip dengan keadaan di Pilbup Maros dan Barru 2015 lalu. Petahana di dua daerah itu juga diterpa isu yang sama, soal korupsi. Namun keduanya bisa bertahan dan memenangkan pertarungan. Takalar ini lebih mirip dengan Maros. Bupati dan Wakilnya sama-sama berpasangan kembali. Berbeda dengan Barru yang memang sudah pecah kongsi jauh sebelum tahapan Pilbup digelar. Di Barru dan Maros pun diikuti lebih dari dua paslon,” jelas Wahyu-panggilan akrab Andi Wahyudin.
Wahyu mengemukakan setidaknya ada tiga alasan jika soal isu korupsi akan berdampak pada perusakan elektabilitas petahana atau tidak. Pertama, yakni soal patron preferensi pemilih dalam menentukan pilihannya. “Kita harus lihat dulu alasan kebanyakan pemilih dalam menentukan pilihannya. Apakah soal bersih dari isu korupsi menjadi alasan utama pemilih dalam menentukan pilihannya atau tidak? Berdasarkan data kami, lebih dari 43 persen pemilih mendasari pilihannya karena melihat kinerja kandidat,”ujarnya.
Adapun alsan yang kedua terkait merakyat atau tidaknya figur tersebut. Sementara alasan yang ketiga, yakni karena melihat kefiguran kandidat. “Apakah figur tersebut dipersepsi sebagai sosok yang baik atau tidak. Nah, soal bersih dari isu korupsi menjadi alasan kesekian. Cuma 0,5 persen,”ucapnya.
Dijelaskan bila pengaruh isu korupsi juga bisa berdampak tergantung dengan kekuatan figur yang disangkakan kasus itu. “Petahana ini dipersepsi sebagai figur yang berhasil menghadirkan perubahan di Takalar. Indeks kepuasan masyarakat terhadap kinerja petahana cukup tinggi, yakni mencapai 77,8 persen. Ini menunjukkan petahana sebagai figur yang kuat, sehingga cukup sulit mengubah persepsi masyarakat, apalagi dengan waktu yang singkat,”katanya.
Ditambahkan bila isu tersebut hanya pada kalangan terbatas, atau hanya mereka yang mengakses via teknologi, maka dampaknya tidak signifikan. Karena pengakses koran, portal, tv atau radio sangat sedikit di Takalar.
Selain itu, isu tersebut juga bisa berlaku layaknya dua sisi mata pedang. Di satu sisi bisa menggores sang petahana, di sisi lain juga bisa menghunus sang kompetitor. “Masyarakat juga bisa diyakinkan oleh pihak yang didera isu ini. Isu ini tentunya akan mudah sekali dicerna sebagai isu yang sengaja dilempar untuk kepentingan politik. Kasus terjadi sudah lama, kok kenapa baru sekarang dimunculkan? Bisa jadi masyarakat berpersepsi demikian. Jika ini diolah dengan baik, maka tidak “tak mungkin” akan jadi keuntungan bagi Bur-Nojeng, karena belum tentu juga sang kompetitor dipersepsi bersih dari korupsi. Rekayasa tersebut bisa jadi tolok rebound dukungan suara bagi sang petahana,” kuncinya. (rif)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top