Headline

Anak Pedagang Pasar Jadi Ketua Stikom Muhamadiyah

IST Syukri

TAK satupun penghuni di jagat raya ini yang tahu akan seperti apa nasibnya kelak, beruntung atau buntung. Semuanya telah diatur oleh Sang Maha Kuasa. Setidaknya, itu yang dirasakan Syukri,SSos,MSi.

Laporan: Muh Yusuf Yunus

TIDAK pernah terlintas di benak Syukri dirinya akan menginjak tanah Papua, daerah paling ujung timur negeri ini. Namun, takdir membawanya sampai ke wilayah anggrek hitam itu.
Ketika duduk di bangku sekolah, putra kedua dari enam bersaudara pasangan Jamaluddin Dg Ngawing dan Hj Sumiati Dg Labbi itu bercita-cita menjadi seorang dokter. Keinginannya itu dilatarbelakangi keadaan kedua orangtuanya yang sehari-harinya berprofesi sebagai penjual di Pasar Pa’baeng-baeng.
Namun sayang, impian itu tak pernah kesampaian. Ia tidak diterima untuk kuliah di Fakultas Kedokteran.
Putus asakah Syukri? Tidak. Ia kemudian putar haluan dan memilih disiplin ilmu yang lain. Syukri kemudian melanjutkan kuliah di Yogyakarta dan memilih sebuah Sekolah Tinggi AMPD. Satu tekadnya ketika itu, ia ingin secara akademik dan sosial memperkuat entitas lokal sebagai pondasi bagi penguatan bangsa dan negara.
Perjalanannya menuntut ilmu tidak hanya sampai jenjang strata satu (S1). Setelah menyelesaikan kuliah di Yogyakarta, Syukri kembali ke Makassar dan melanjutkan studi di jenjang S2 kampus Universitas Hasanuddin (Unhas).
Seiring bergulirnya waktu, sampailah Syukri pada sebuah situasi yang mengharuskannya memilih. Apakah tetap tinggal di Makassar atau merantau ke negeri orang untuk mengabdikan diri dengan ilmu yang dimilikinya.
Pada suatu hari, ia diajak seorang teman guna mengadu nasib di Tanah Papua. “Awalnya, saya dipanggil teman ke Jayapura. Padahal tidak ada rencana sama sekali. Namun entah mengapa, ada sebuah kekuatan besar mendorong menerima ajakan teman. Setelah menyelesaikan S2 di Unhas tahun 2005, saya ke Papua dan mulai merintis karier di sana,” kenang Syukri saat bincang-bincang dengan BKM pada sebuah kafe di Makassar beberapa waktu lalu.
Ternyata, pilihannya untuk merantau tidaklah salah. Ia akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya di Papua. Ilmu yang dia miliki sangat dibutuhkan di daerah tersebut.
“Di mana kaki berpijak di sana langit dijunjung. Prinsip itulah membuat saya bertahan. Saya tak punya sanak family di Jayapura. Sudah kurang lebih 10 tahun. Syukur Alhamdulillah, bisa mengabdi memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Di rantau pula Syukri bertemu dengan pasangan hidupnya. Perempuan pujaan hatinya itu berasal dari Makassar dan juga merantau di Papua.
Ada banyak alasan yang membuat Syukri bisa tinggal dan bermukim di Jayapura. Bukan hanya kemolekan pesona alam daerah. Tapi juga karena keramahan masyarakat penghuninya.
”Mulanya sempat ada perasaan berbeda ketika berada di Jayapura. Salah satunya dengan dialek bahasa setempat. Tapi lambat laun semua berhasil diatasi. Keinginan untuk mengabdikan diri memajukan dunia pendidikan berjalan sesuai harapan,” terangnya.
Dari awalnya menjadi seorang dosen, Syukri akhirnya diamanahkan untuk memimpin Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Muhammadiyah Jayapura.
Berada di daerah paling Timur Indonesia, Syukri mengaku mendapat banyak pengalaman yang berbeda di daerah asalnya.
“Banyaklah. Bukan hanya tempatnya yang banyak menarik dan sangat dirindukan. Tradisi, budaya dan kearifan masyarakat setempat memiliki ruang tersendiri untuk dirasakan,” kata Syukri. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top