Berita Kota Makassar | Pakai Lepa-lepa Cari Ikan Hingga ke Florer
Headline

Pakai Lepa-lepa Cari Ikan Hingga ke Florer

SETIAP manusia tentu punya kenangan semasa kecil yang tak pernah terlupakan. Perjuangan untuk meraih cita-cita menjadi salah satunya.

Laporan: Arif Alqadri

MENJADI orang nomor dua di Kota Makassar, tak pernah terbersit di benak Syamsu Rizal MI. Maklum, pejabat yang akrab disapa Deng Ical ini dulunya bukanlah siapa-siapa.
Ia lahir di Benteng, Selayar, 30 Juni 1973. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di pantai bersama teman-teman sebayanya. Terlebih di saat liburan sekolah.
Memancing, memanah dan memarangi ikan di saat air laut surut, menjadi aktifitas yang hampir setiap hari dilakoninya. Mulai ketika sore menjelang hingga malam hari.
Tidak jarang, anak Kepulauan Selayar dari pasangan Marzuki Ibrahim dan Hj Sitti Saerah itu mencari ikan hingga ke perairan Flores, Nusa Tenggara Timur. Mereka hanya menggunakan lepa-lepa atau perahu tanpa mesin milik nelayan setempat, yang sering dilakukan bersama dua puluh teman temannya.
Meski peralatan menangkap ikan tidak selengkap dengan para nelayan senior, namun Ical bersama teman-temannya selalu membawa hasil buruan yang cukup banyak. Padahal mereka hanya bermodalkan lampu strongking, panah, parang dan pancing.
“Waktu kecil dulu saya kebanyakan habiskan waktu di pantai bersama teman-teman mencari ikan. Itu menjadi pengalaman yang sampai saat ini berkesan dalam hidup saya, karena saya dibesarkan di Pulau Selayar. Jadi saya dulu pernah jadi nelayan, sebelum sekolah SMP di Makassar ikut orang tua,” kenang Deng Ical dalam sebuah bincang-bicang dengan BKM di sela-sela kesibukannya.
Suami Mellia Fersini yang pernah menjadi anggota DPRD Kota Makassar, mengaku sudah sering merasakan lilitan gurita di tangannya. Rasanya tidak jauh berbeda dengan gigitan semut dan sedikit agak berlendir.
Kehilangan arah pulang saat berada di tengah laut di malam hari, sudah sering dia alami bersama beberapa temannya. Namun hal itu tidak membuat Deng Ical berhenti melanjutkan petualangannya.
“Kehilangan arah pulang di malam hari saat di tengah laut juga pernah saya alami. Apalagi kalau hujan, bintang-bintang itu biasanya tidak dilihat. Padahal bintang kita jadikan panduan arah. Kalau kondisinya seperti itu, kita terpaksa harus tenang di atas kapal, tunggu hujan reda dan terus mencari bintang. Bintang terang dijadikan panduan arah nelayan ke daratan,” terang bapak tiga anak ini.
Ical kecil juga kerap mendapat teguran dari kedua orang tuanya akibat kebiasannya mencari ikan, khususnya di malam hari di pulau seberang. Kegiatannya itu dibatasi ketika dia duduk di bangku SMP.
Setelah menempuh pendidikan di SD Inpres 1 Benteng dan melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Benteng, aktifitas Ical mencari ikan di laut bersama teman-temannya mulai berkurang. Ia lebih banyak meluangkan waktunya untuk belajar.
Hanya beberapa semester yang diikuti, dia meminta kepada bapaknya untuk ikut tinggal di Makassar. Saat itu ayahnya yang merupakan anggota DPRD Selayar empat periode, pindah ke Makassar. Marzuki Ibrahim (MI) yang merupakan singkatan di belakang nama Syamsu Rizal, beralih menjadi dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alauddin Makassar yang kini berganti menjadi Universitas Islam Negeri Makassar.
“Naik kelas 2 SMP, saya ikut bapak ke Makassar dan melanjutkan sekolah di SMP 1 Makassar. Kebetulan bapak yang mantan anggota DPRD Selayar pindah ke Makassar menjadi dosen, jadi saya pilih untuk ikut juga,” ujarnya. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top