Jual Jalangkote dan Es Lilin di Sawah – Berita Kota Makassar
Headline

Jual Jalangkote dan Es Lilin di Sawah

BKM/PURMADI H Zulkifli Zain

TAK ada satu orangpun yang tahu seperti apa hidupnya kelak, kecuali Sang Pencipta. Namun, keinginan yang kuat, kerja keras serta kepercayaan dan kedisiplinan yang ditanamkan sejak kecil, seseorang bisa meraih apa yang diharapkannya.

Laporan: Purmadi

H ZULKIFLI Zain dulunya bukan siapa-siapa. Ia tak punya apa-apa. Kisah hidupnya penuh dengan pahit getir sejak kecil.
Nama panggilannya adalah H Pilli. Dia bukanlah anak saudagar kaya. Orang tuanya bukan pula pengusaha. Bapaknya seorang guru biasa.
Namun, siapa sangka anak desa yang lahir di Kampung Tonrongnge, Kecamatan Baranti, Sidrap 43 tahun silam ini bisa menjadi orang nomor satu di jajaran DPRD Kabupaten Sidrap.
Saat BKM bertandang di kediaman pribadinya di Baranti, terlihat kesederhanaan terpatri dalam dirinya. Tak ada yang istimewa dalam kesehariannya. Celana dan bajunya seperti orang biasa pada umumnya.
Membuka kisah hidupnya, ia mengaku tak pernah melupakan pahit getir kehidupan ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Pria yang lahir 17 Maret 1973 ini mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 1 Tonrongnge dengan berpeluh keringat. Di pagi sebelum berangkat sekolah, dia harus menenteng tas dan termos berisikan es lilin dan jalangkote yang harus dijajakan di sekolah setiap harinya. Bahkan sampai ke desa tetangga Abbokongen yang berjarak tempuh 5 kilometer dari kampung halamannya di Tonrongnge.
Dari hasil menjual es dan jalangkote buatan ibunya, Pilli –nama kecilnya– mendapat ‘upah’ Rp75. Sebagian dari hasil keringatnya itu kemudian ia tabung tabung dan digunakan untuk membiayai sekolahnya.
Dia tak merasa risih ataupun malu melakoni pekerjaan itu. Yang penting, dia bisa kerja halal, mandiri dan bisa mendapat uang jajan.
Orangtunya yang seorang PNS guru, ditambah keperluan saudara-saudarinya yang berjumlah enam orang, membuat Pilli yang bungsu harus belajar mandiri.
Semasa kecilnya, di mengaku tak pernah merepotkan dan membebani orang tuanya. Ketika pulang sekolah, dia tak langsung bermain. Melainkan tetap membantu orang tua kembali menjajakan es dan jalangkote ke pematang sawah. Di musim panen, Zulkifli kecil menjajakan dagangannya kepada buruh pemanen padi.
“Waktu SD kelas 3 saya jual es lilin dan jalangkote kalau pagi. Sepulang sekolah saya ke sawah dimana saja orang panen padi. Saya ingat, biasa saya dibayar dengan gabah. Semua ini saya lakoni hingga tamat SD,” cerita ayah tiga anak ini.
Setamat SD, perjuangan kerasnya hidup tak berhenti begitu saja. Ketika duduk di bangku kelas I SMP, sang panutan hidup selama ini, ibundanya Hafiah menghadap Sang Khalik.
Pekerjaan menjual es dan jalangkotenyapun terhenti. Sejak itu, ayahnya, Muh Zain yang seorang guru terus membimbingnya.
Hingga suatu saat, tepatnya tahun 1990-an, mungkin karena putus asa atau kenakalan remajanya, Zulkifli memutuskan berhenti sekolah di SMA Muhammadiyah Rappang. Saat itu dia sudah kelas III dan semester akhir.
Tanpa mendapat restu dari orang tua, dia nekat merantau mengikuti salah satu saudaranya ke Manado, Sulawesi Utara.
“Seingat saya, merantau pertama itu tahun 91. Saya berangkat menggunakan kapal dengan menumpangi KM Atirah tujuan Bitung,” terangnya.
Sesampainya disana, Zulkifli mengaku tidak langsung dapat pekerjaan. Dia sempat menganggur dan kerja serabutan beberapa bulan, hingga akhirnya dia hijrah ke daerah Sangir Talaud, Sulut.
Zulkifli mengaku bekerja tetap sebagai penjaga tokoh pakaian jadi pamannya. Gaji yang belum dianggap bisa memenuhi masa remajanya pada saat itu, hingga ia memutuskan berhenti kerja.
Satu hal yang tak dilupakannya semasa rantau. Dia mencoba hidup mandiri dan numpang kost milik temannya waktu itu, uang saku miliknya tidak ada sama sekali.
Rasa lapar dan keinginannya merokok juga tak bisa ia penuhi dengan lancar. Sesekali jurus pinjam pada teman dan tetangga ia lakukan demi menyambung hidup.
“Itu yang tidak pernah saya lupakan. Mauka makan tapi tidak ada uang. Mau beli rokok lebih-lebih. Pernah saya tahan tidak makan selama 3 hari dan hanya makan buah-buah dari tanaman tetangga. Sedih sekali rasanya kalau saya ingat penderitaan saya waktu itu,” kenangnya.
Bersabar melakoni hidup di tanah rantau tetap ia lakoni selama beberapa tahun. Hingga akhirnya atas ajakan temannya untuk mencoba membuka usaha tromol (tambang galian emas) di Sangir Talaud Sulut akhir tahun 1992.
Disinilah usaha tambang emas dirintisnya dari nol. Tak hanya satu daerah ia datangi. Hampir semua wilayah yang punya lokasi tambang emas dibuka ia datangi. Seperti Namlea Ambon, Toli-toli, Palu, dan Gorontalo.
“Saya dulu menjadi anak buah dan ikut menambang dari satu daerah ke daerah lain,” papar auami Hj Hadariah ini.
Hanya beberapa tahun dan mulai punya pengalaman, diapun memutuskan untuk menjadi pengepul emas dari para penambang. Waktu itu, modal dasar yang dipakai memulai usahnya hanya Rp250 ribu.
“Modal untuk beli emas pada saat itu harganya Rp22 ribu per gramnya. Saya keliling lokasi tambang beli-beli emas, dan kemudian saya jual di Kota Manado. Lumayan, untungnya dua kali lipat. Tergantung pasaran emas,” ungkapnya.
Sejak itu, usahanya kian berkembang. Dengan modal kepercayaan, para juragan emas di Manado ramai-ramai meminjamkan modal kepadanya.
“Seandaianya bukan kejujuran, mungkin saya tidak begini hasilnya. Pernah saya disuruh bawa uang beli emas Rp300 juta hingga Rp500 juta. Juga pernah bawa emas milik bos saya sampai kiloan. Seandainya saya tergiur, mungkin Tuhan sudah melaknak saya,” terangnya.
Sejak itulah, rupiah demi rupiah ia kumpulkan. Semua aset ia beli satu persatu, baik di Manado, Ambon, ataupun di tanah kelahirannya.
Sejak itulah, takdir Tuhan menghendaki H Pilli menjadi orang sukses. Sepulangnya dari tanah rantau, dia selalu menolehke belakang, siapa dan darimana asal harta kekayaan yang diperolehnya. Semuanya titipan Sang Maha Pencipta. (*/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top