Buat Film dari Buku yang Ditulisnya – Berita Kota Makassar
Headline

Buat Film dari Buku yang Ditulisnya

IST Nurul Ichsani,MSi,MIKom

TIDAK banyak orang yang bisa melakoni berbagai kegiatan dalam waktu bersamaan dan ternyata mampu membuahkan hasil. Dari jumlah yang sedikit itu, satu diantaranya adalah Nurul Ichsani,MSi,MIKom.

Laporan: Ardhita Anggraeny

DI USIA 23 tahun, perempuan yang akrab disapa Yuyu ini sudah terjun menjadi tenaga pengajar. Ia menjadi seorang asisten dosen strata satu (S1) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin.
Pada saat bersamaan, Yuyu menempuh kuliah untuk meraih gelar magisternya. Kini ia disibukkan dengan persiapan menuju gelar doktornya.
Kelahiran 18 Januari 1988 ini berjuang sendiri untuk menggapai cita-citanya. Bukan hanya di bidang akademik kampus, prestasi lain juga ditorehkan Yuyu dengan cemerlang.
Sejak di bangku kuliah sebelum menjadi seorang dosen, Yuyu menjadi abgian dari Dewan Komite Film Kebangkitan Seni dan Budaya Kota Makassar. Dalam waktu hampir bersamaan, Yuyu memproduksi beberapa film, di mana ceritanya diangkat dari buku yang ditulisnya.
”Kalau tugas kuliah lagi kosong dan bahan ngajar juga sudah selesai, saya biasa nulis-nulis. Awalnya hanya iseng. Namun kemudian berlanjut dijadikan buku. Dari buku itu saya lalu membuatnya dalam sebuah film bersama teman-teman,” ujarnya.
Bukan hanya satu atau dua film yang dihasilkannya. Melainkan puluhan.
Selain itu, Yuyu juga terjun di dunia fotografi dan desain. Prestasi juga ditorehkannya di dua bidang ini. “Saya paling suka membuat video dokumenter dan film,” ujarnya.
Ia kemudian menyebut beberapa diantara hasil karyanya. Seperti Pena, Alterabilia, Satu Bumi Berjuta Kehidupan, Mata, Kawali-Identity of Buginese Man, Why Vdms, dan Angela Leany–Sayap-sayap Kecil Tuhan. Film tersebut telah diputar di beberapa event kampus, pelatihan komunitas film dan beberapa event lainnya.
Berbagai training dan studi juga telah diikuti Yuyu. Diantaranya Basic Course of Photography (2008), Makassar, Indonesia, In House Training (2007), Makassar, Indonesia, Diksar LFM (2008), Makassar, Indonesia, Journalistik (2007), Makassar, Indonesia, International Transform Training of Powerful Teaching (2009), Makassar, Indonesia, Leadership Conference of Van Deventer Maas Stichting (VDMS) (2009), Surabaya, Indonesia.
Selain itu, Yuyu menjadi anggota KIFO (Fotografi), KINE (sinematogradi), Baruga (jurnalistik), Gradient (Gradik Desain), LFM (Sinematogradi), Ketua Regional Representative of Van Deventer Maas Stichting Makassar, anggota Komunitas Beranda Baca, anggota Forum Film (ForFilm) Makassar, Manajer Program Komunitas Sekolah Ekologi Indonesia (SELOGI), Founder Kine Timur (Komunitas Film) dan Manajer Program Kine Timur (Komunitas Film).
“Saya orangnya tidak mau tahu hanya satu ilmu. Banyak ilmu, banyak pengamalan, banyak prestasi dan banyak bakat. Itu yang harus dikejar. Jadi ketika dibutuhkan atau kita diminta menjadi sesuatu, atau apalah itu, kita bisa semunaya dan tidak ketinggalan. Satu kuncinya jadi multitalent,” jelasnya.
Putri pasangan Drs Syamsul Suryadi,MA dan Dra Hj Siti Fatimah Haenur ini belajar dari kebiasaan dan ajaran sang ayah. Intinya, apapun yang diinginkan harus didapatkan melalui perjuangan. “Jalau saya mau sesuatu itu harus berusaha sendiri. Kalau mau barang harus mendapatkannya dengan usaha sendiri,” begitu prinsipnya. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top