Konsultan Usul Pintu Air Dekat Sungai Pampang – Berita Kota Makassar
Headline

Konsultan Usul Pintu Air Dekat Sungai Pampang

MAKASSAR, BKM — Salah seorang konsultan pengairan yang juga dosen Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, Mas’ud Sar menilai, banjir yang terjadi di Makassar sudah multi masalah. Penyebabnya ada berbagai faktor. Diantaranya karena pengaruh topografi, seberapa besar jenis tanah mampu meresap air.
Selain itu, alih fungsi lahan menjadi bangunan-bangunan kokoh. Yang sebelumnya menjadi tempat resapan air, sekarang tidak bisa lagi dimaksimalkan fungsinya karena beton-beton yang terbangun.
Faktor lain, kata Mas’ud, yakni sedimentasi. Terutama limbah padat seperti sampah pada saluran drainase yang tersumbat sehingga air tidak mengalir dengan baik. Dan yang cukup menentukan banjir adalah curah hujan tinggi.
“Jadi ketika ada banjir atau genangan yang terjadi, periksa faktor-faktor yang saya jelaskan di atas,” kata Mas’ud kepada BKM, Senin (10/10).
Dia melanjutkan, yang juga cukup penting adalah persoalan dimensi drainase. Sudah ada drainase yang tidak berfungsi maksimal sehingga tidak bisa mengalirkan air.
Yang terpenting dilakukan untuk penanganan banjir, menurutnya, semua stakeholder, termasuk masyarakat harus duduk bersama untuk mengetahui penyebab banjir agar bisa dicarikan solusi. Pasalnya, berbeda faktor penyebabnya, berbeda pula penanganannya.
“Jadi harus dicari dulu akar permasalahannya. Setelah tahu baru dilakukan langkah penanganan,” jelasnya.
Untuk banjir ‘abadi’ di Jalan Urip Sumoharjo depan kantor gubernur yang sudah menjadi permasalahan menahun, Mas’ud senada dengan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) XIII. Menurut dia, persoalannya berhubungan dengan tinggi rendahnya permukaan air Sungai Pampang.
”Sebaiknya dibuatkan pintu air di ujung drainase yang langsung berhubungan dengan sungai tersebut. Jadi ketika permukaan air sungai lebih tinggi dibanding yang ada di drainase, pintu air ditutup. Air yang mengalir di drainase dialirkan ke sungai menggunakan pompa. Tidak ada jalan selain menggunakan pompa,” tandasnya.
Selain itu, dia juga mengusulkan stakeholder terkait untuk memaksimalkan pembuatan biopori atau lubang resapan air guna membantu penyerapan air ke tanah.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi C DPRD Makassar, Fasruddin Rusli sangat menyayangkan jika masih saja terjadi banjir di jalan akibat meluapnya air drainase. Sebab setiap tahunnya selalu dialokasikan anggaran untuk pembangunan dan pengerukannya.
Diapun meminta Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Makassar untuk proaktif menerjunkan satuan tugas penanggulangan banjir yang telah dibentuk.
”Pemkot melalui Dinas PU harus menggunakan anggaran sebaik-baiknya untuk mengatasi persoalan banjir akibat drainase yang tak berfungsi maksimal. Jangan terkesan ada pembiaran,” ujarnya, kemarin.
Legislator Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini juga sependapat dengan Mas’ud Sar. Menurutnya, banjir kian sering terjadi akibat banyaknya drainase yang ditutup. Khususnya oleh pemilik toko yang ada di pinggir jalan. Termasuk banyaknya sampah yang bertumpuk di saluran air.
”Dinas PU harus melakukan langkah antisipatif agar jalan-jalan yang selalu tergenang tak lagi terjadi. Anggaran yang ada harus fokus membenahi titik drainase yang tersumbat,” kata anggota Badan Anggaran DPRD Makassar ini.
Anggota Komisi C, Supratman menyebut, genangan yang terjadi di jalan dan memicu terjadinya kemacetan parah, disebabkan karena air tidak mengalir normal. Meski hanya sebentar, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan munculnya genangan di mana-mana.
”Kalau di Jalan AP Petta Rani dan Urip itu, luapan air terjadi karena saluran air ditutup oleh pemilik toko. Itu harus dibongkar,” tegasnya.
Legislator Fraksi Nasdem ini menyebutkan, bukan hanya wilayah Urip Sumoharjo dan Petta Rani yang menjadi langganan genangan.Tapi juga di Manggala, Toddopuli dan Biringkanaya, tepatnya di sekitar Sudiang.
Masyarakat di wilayah tersebut setiap tahun harus menderita hingga berbulan-bulan lamanya akibat genangan yang belum didapatkan solusinya.
“Kalau Tamalanrea juga masih terjadi banjir. Yang juga harus disorot itu Manggala dan Pannakukang, karena sama dengan wilayah Sudiang. Bahkan saat hujan pada akhir September lalu, rumah warga terendam hingga 30-50 cm selama kurang lebh 12 jam lamanya,” bebernya.
Begitu pula di Jalan Toddopuli VII dan sekitarnya. Air sudah masuk ke dalam rumah warga. Lagi-lagi penyebabnya sistem drainase yang tak berfungsi dengan baik.
Anggota DPRD lainnya dari daerah pemilihan Kecamatan Biringkanaya dan Tamalanrea, Abdi Asmara menekankan bahwa perbaikan drainase saat ini masih menjadi prioritas di semua wilayah. Genangan, kata dia, tidak hanya terjadi pada wilayah Sudiang dan sekitarnya, tetapi juga di Jalan Perintis Kemerdekaaan.
Dinas PU Kota Makassar melalui Kepala Bidang Bangunan dan Air, Muh Fuad Azis menyebutkan, anggaran dari APBD sebesar Rp12 miliar untuk pengerukan sedimen dan pengangkatan sampah yang ada di drainase. Duit tersebut digunakan untuk honor para petugas Satgas drainase yang dibentuk oleh Dinas PU, serta pembelian solar untuk mobil pengangkut sedimen dan sampah.
”Satgas yang dibentuk rutin mengangkat sedimen dari dalam saluran air. Begitu juga sampah yang ada di drainase. Semua ini untuk mengantisipasi terjadinya banjir dan genangan,” kata Fuad, kemarin. (rhm-ita-arf/rus)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top