Komitmen Pengampuh yang Baik untuk Mendidik Dokter – Berita Kota Makassar
Headline

Komitmen Pengampuh yang Baik untuk Mendidik Dokter

GARIS tangan dan takdir seseorang memang sudah diatur Tuhan. Tak ada yang tahu akan seperti apa nasib mereka kelak. Namun, sepanjang ada usaha, semangat, harapan, dibarengi doa dan kepasrahan pada Sang Khalik, yakinlah Dia akan memberi ganjaran terhadap semua yang kita lakukan.

Laporan: Rahmawati Amri

KERJA keras pantang menyerah yang dilakoni Nasruddin berbuah manis. Hasil dari profesinya sebagai seorang dokter mulai dinikmatinya. Dengan bekal kompetensi yang dimiliki, diapun mengabdikan hidupnya sebagai dokter spesialis dan juga dosen.
Dia menyadari, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat, sehingga ilmu yang dimiliki harus selalu diperbarui. Berbagai kegiatan seminar, workshop, talk show di media massa dan pelatihan-pelatihan, baik lokal, nasional bahkan sampai ke even internasional diikutinya. Ia juga kerap diminta untuk menjadi narasumber pada berbagai kegiatan.
Awal tahun 2007, Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (FK UMI) merekomendasikan dirinya untuk melanjutkan pendidikan non gelar Bioetika Hukum Kedokteran, dan Hak Asasi Manusia di bidang kesehatan yang dilaksanakan oleh HWS Dikti bekerja sama FK Universitas Indonesia. Kemudian dilanjutkan dengan pendidikan bioetika, humaniora dan profesionalisme kedokteran di FK Universitas Gajah Mada dari tahun 2010 sampai tahun 2012.
Pengetahuan dan kompetensi inilah mengantar Nasruddin menjadi salah satu diantara sedikit orang yang ekspert terhadap ilmu bioetika kedokteran.
“Inilah yang kemudian membuat saya semakin berkomitmen bisa menjadi pengampuh yang baik untuk mendidik dokter yang profesional dan beretika,” ujarnya.
Di FK UMI, selain menjadi dosen, beberapa jabatan juga pernah diemban. Dia diberi kepercayaan sebagai Koordinator Kepaniteraan Klinik yang pertama di FK UMI. Tugas utamanya adalah mengurus pendidikan tahap profesi.
Tahun 2010-2014 dia diberi amanah sebagai Wakil Dekan III, yang bertanggung jawab untuk urusan kemahasiswaan dan alumni. Jabatan dan amanah itu dinilainya sangat istimewa, karena dipercayakan ketika usianya yang masih terbilang muda. Di tahun 2014-2018, lelaki ini lagi-lagi diberi tanggung jawab sebagai Wakil Dekan I bidang Akademik.
Tak hanya di bidang akademik dan profesionalis, sejak tahun 2008, Naruddin juga diberikan amanah oleh Persyarikatan Muhammadiyah Kota Makassar untuk mengelola manajemen RSIA Sitti Khadijah 1. Ia menjabat sebagai wakil direktur sampai tahun 2010. Ketika bergabung di rumah sakit itu, kondisinya sangat memperihatinkan.
“Padahal kita ketahui semua bahwa RSIA Sitti Khadijah 1 merupakan rumah sakit bersalin pertama yang sangat jaya di era tahun 1980-an sampai tahun 2000,” ungkapnya.
Pembenahan sistem dan manajemen rumah sakit menjadi tantangan terberat Nasruddin pada saat itu. Kemudian untuk periode pertama tahun 2010 sampai tahun 2013, dia diangkat sebagai direktur.
Amanah inilah yang kemudian menantangnya untuk memperbaiki sistem manajemen RS tersebut. Selanjutnya, untuk periode kedua kembali diberi amanah menjadi direktur dari tahun 2013 sampai 2017.
“Alhamdulillah, amanah tidak saya sia-siakan untuk memberikan perbaikan terhadap amal usaha Muhammadiyah dalam memberikan pelayanan terbaik untuk ummat,” tegasnya.
Tahun 2009, Nasruddin melanjutkan pendidikan S3 kedokteran dan selesai pada tahun 2013. Jenjang pendidikan tertinggi inilah yang kemudian mengantarkannya menjadi dosen di pascasarjana Yayasan Badan Wakaf UMI, dosen pada Program Magister Kebidanan FK Unhas, dan saat ini menjadi penguji pada program S3 kedokteran FK Unhas.
Lelaki yang mulai membina rumah tangga dengan menikah pada bulan Mei 2005 itu dikarunia dua anak. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top