Metro

Istri Nangis, Ibu Korban Pingsan

TERHARU -- Sidang kasus pembunuhan Abbas (40) di PN Parepare, Senin (10/10) dipimpin Ketua Majelis Hakim, Ariani Ambar, SH. Jalannya sidang membuat pengunjung sidang terharu saat terdakwa Muhlis (29) memeluk dan mencium tangan paman korban, Muh Latief.

PAREPARE, BKM — Sidang kasus pembunuhan Abbas alias Lebbae (40) yang digelar di PN Parepare, Senin (10/10) dipimpin Ketua Majelis Hakim, Ariani Ambar, SH. Para pengunjung sidang sempat terharu saat terdakwa Muhlis (29) memeluk dan mencium tangan paman korban, Muh Latief.

Bahkan istri korban, Labbae, Kasma menangis melihat adegan itu dan ibu korban langsung jatuh pingsan dari kursi pengunjung. Terdakwa dan keluarga korban tetap akrab, tidak ada terlihat ada dendam antara keluarga korban dan terdakwa.
Terdakwa Muhlis dihukum karena terbukti melakukan pembunuhan terhadap lebbae, hanya masalah siri, dimana korban sering menganggu istri terdakwa, sehingga berujung maut, pada hari, Sabtu (2/7) usai salat tarwih sekitar pukul 21.30 wita lalu di lokasi rumah ipar terdakwa, Jumiati di Perumahan BTN Pepabri Kelurahan Lapadde Kecamatan Ujung Parepare.
Sidang yang digelar di Pengadilan ini, masih dalam pemeriksaan keterangan saksi yang diajukan oleh pihak jaksa penuntut umum (JPU), Irwan, dimana saksinya, istri korban, Kasma dan paman korban, Muh Latief.
Dalam persidangan semua saksi tidak mengetahui apa motif dibunuhnya Lebbae, bahkan saat kejadian, korban sudah tidak bernyawa lalu dilarikan di RsU Andi Makkasau,”saya ditelpon istri terdakwa Asmawiah melalui no handphone suami saya, bahwa suami saya meninggal karena kecelakaan,” ujar Kasma.
Kasma langsung menyampaikan hal ini kepada orangtuanya dan mertuanya sendir termasuk paman korban, Muh. Latief, mereka dari Sidrap menuju ke Parepare untuk menjemput jenazah suaminya. Saat tiba di RSU Andi Makkasau maka bertemu dengan satpan, dan pihak Satpan menyampaikan bahwa suaminya di bunuh.”saya melihat suami saya luka dengan 6 tusukan,”jelasnya.
Namun tidak ada reaksi pihak keluarga korban untuk mencari terdakwa, hanya membawa pulang korban ke Sidrap untuk di makamkan.
Sedangkan, saksi, Muh Latief, mengakui kalau dirinya kenal terdakwa, karena pernah mengajak kerja ke Ambon, Latief tahu bahwa tidak ada masalah dengan korban,”terdakwa itu baik tidak pernah ada masalah dengan kami,“tandas Latief. Bahkan paman korban tidak tahu kalau hanya persoalan perselingkuhan antara korban dengan istri terdakwa membuat nyawa korban melayang.
Agenda sidang berikutnya, masih keterangan saksi, dimana nama-nama yang disebut istri korban dalam persidangan akan dipanggil oleh kejaksaan untuk dimintai keteranganya terkait pernyataan saksi yang merupakan istri korban bahwa puang Abu yang merupakan bos korban tau kalau ada rencana dibunuh korban.
Pengakuan saksi itu dibantah oleh terdakwa dalam persidangan, bahwa tidak pernah dirinya bertemu puang Abu membicarakan pembunuhan yang direncanakan.
Terdakwa melakukanya karena ada pertemuan istrinya dengan korban di Kta Parepare, dimana sebelumnya istri terdakwa minta buku nikah terhadap korban dan korban bersama istri terdakwa pernah pergi ke Majene Sulbar bermalam dua malam tanpa diketahui istri korban serta terdakwa.
Sidang dilanjutkan, pekan depan, senin (17/10) dengan agenda masih keterangan saksi yang di hadirkan oleh pihak JPU,.
Penasehat hukum terdakwa, MY Rendy, SH dan Samiruddin, SH mengatakan fakta persidangan tak ditemukan adanya unsur perencanaan dalam kasus ini.”Kita lihat nanti persidangan berikutnya, yang jelas kasus pembunuhan ini terjadi karena perselingkuhan antara korban dengan istri terdakwa sehingga terdakwa nekat menghabisi korban Lebbae, karena siri atau harga diri,”tutur Rendy singkat. (smr/C)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top