Berita Kota Makassar | Anak Petani, Nekad Kuliah di FK dengan Biaya Pas-pasan
Headline

Anak Petani, Nekad Kuliah di FK dengan Biaya Pas-pasan

IST Dr dr H Nasruddin Andi Mappaware,SpOG

JANGAN pernah malu disebut sebagai anak kampung. Karena tidak sedikit mereka yang berasal dari kampung mampu meraih sukses. Salah satunya Dr dr H Nasruddin Andi Mappaware,SpOG.

Laporan: Rahmawati Amri

LAHIR dan besar di sebuah kampung bernama Unaaha di Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara, lelaki berdarah Bugis ini tidak pernah merasa minder ataupun malu disebut anak kampung. Karena walaupun berasal dari pedalaman, hokinya sangat baik. Dia mampu meretas karir hingga sukses menjadi seorang dokter dan pendidik di Kota Makassar, tempat berkumpulnya banyak orang-orang hebat.
Lelaki kelahiran 30 Mei 1976 ini merupakan anak kesembilan dari sepuluh bersaudara. Walaupun orang tuanya tidak mengenyam sekolah rakyat dan tidak bisa baca tulis, namun mereka menjadi sumber inspirasi, guru kehidupan dan ulama terbesar dalam hidup Nasaruddin.
Dia menghabiskan masa kecil dan remajanya di Desa Tumpas, Kecamatan Unaaha dengan sederhana dan serba pas-pasan. Ayahnya seorang perantau dari Bone yang menjadi petani di sana. Sedangkan sang ibu, seorang penjahit sederhana.
Walaupun kondisi ekonomi keluarganya sangat pas-pasan untuk bersekolah, lelaki ramah ini tetap optimis dalam menuntut ilmu.
Sejak SD, Nasruddin tergolong anak yang cerdas. Sangat aktif di berbagai kegiatan dan punya banyak prestasi, baik dalam bidang olahraga maupun keagamaan.
Di SMP sampai SMA pun, dia dikenal sebagai siswa yang sangat aktif berorganisasi. Banyak kegiatan di tingkat kabupaten hingga provinsi yang diikuti dan mewakili sekolahnya dalam berbagai lomba. Berderet-deret prestasi diraihnya saat duduk di bangku sekolah.
Di bidang akademis pun, lelaki ramah ini selalu langganan juara kelas. Malah, dia dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan hasil ujian tertinggi saat lulus SMA tahun 1995.
Sejak kecil, bapak dua anak ini bercita-cita jadi guru. Dalam pikirannya, guru adalah sosok orang yang paling baik. Profesinya paling mulia, karena mengajarkan ilmu dan membuat orang menjadi tahu yang pada akhirnya bisa bekerja, mandiri dan menjadi orang yang sukses.
Tak pernah ada dalam di benaknya untuk menjadi seorang dokter, mengingat biaya yang harus disiapkan untuk pendidikan itu cukup besar.
Untuk jadi guru pun dia masih berpikir keras apakah mimpinya itu bisa terkabul atau tidak. Mengingat kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan.
Selepas SMA, dia ditantang sang ibu tercinta untuk melanjutkan pendidikan kedokteran. Sang ibu melihat ada kemampuan anaknya yang bisa diandalkan untuk menjadi seorang dokter.
“Ibu mau saya jadi dokter. Walaupun cukup ragu-ragu, namun bagi saya, itu adalah doa. Apalagi semangat ibu untuk melihat hidup anaknya berubah lebih baik, sangat besar,” jelasnya.
Tahun 1995, lelaki ini meninggalkan Unaaha dan hijrah ke Ujung Pandang, nama Makassar, ibukota Sulsel waktu itu. Dia melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi untuk meraih cita-cita menjadi dokter. Meski dengan modal yang sangat pas-pasan.
Dia kemudian mendaftar di Fakultas Kedokteran Unhas sebagai pilihan pertama. Sementara pilihan kedua adalah jurusan Biologi Fakultas MIPA.
Ternyata dia lulus di pilihan kedua, yaitu jurusan Biologi, Fakultas MIPA. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya.
Dengan ‘nekad’, diapun ikut tes masuk Fakultas Kedokteran di Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Kenapa nekad, karena seperti diketahui, biaya pendidikan dokter di universitas swasta pasti butuh anggaran yang fantastis. Tapi dia tetap memantapkan tekadnya.
“Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Manjadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan dapat,” begitu prinsipnya. Ternyata, diapun diterima di Fakultas Kedokteran UMI.
Rapat keluarga digelar. Keputusan akhirnya, dia diminta untuk memilih FK UMI agar bisa menjadi dokter, dengan komitmen kakak-kakaknya yang sudah bekerja siap untuk membantu. Selain itu, Nasruddin juga harus getol mencari beasiswa serta pekerjaan sampingan untuk bantu-bantu membiayai kuliahnya.
Babak baru kehidupannya pun dimulai. Menjadi mahasiswa kedokteran dengan biaya pas-pasan ibarat bermain roller coaster alias banyak sensasinya. Terutama saat harus bayar uang semester, biaya-biaya praktikum dan lainnnya.
Dia cukup terbantu dari beasiswa yang diperolehnya. Selain itu, Nasruddin juga kerap menjadi guru privat.
Pokoknya selama kuliah, hidupnya sangat pas-pasan. Dia fokus agar bisa cepat menyelesaikan kuliah sehingga tidak lagi membebani kakak-kakaknya.
Nasruddin menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran (SKed) tahun 1999 dengan IPK sangat memuaskan. Selanjutnya ia menempuh melanjutkan pendidikan profesi dokter hingga menyandang predikat bergengsi itu tahun 2001.
Sejak kuliah, Nasruddin menunjukan prestasi yang membanggakan. IPK-nya tidak pernah di bawah 3,00 dan menjadi asisten laboratorium bagian anatomi yang pertama di FK UMI dari tahun 1997 sampai 2001. Dia juga merangkap menjadi asisten pertama di bagian Patologi Anatomi FK UMI dari tahun 1999 sampai 2001.
Setelah menamatkan pendidikan dokter, tahun 2003,dia mengabdikan ilmu sebagai dokter jaga unit gawat darurat di Rumah Sakit Dadi Makassar.
Kemudian, awal Juli 2003, dia melanjutkan pendidikan spesialis di bagian kebidanan dan kandungan (pbstetri dan ginekologi) di Fakultas Kedokteran Unhas. Dia mengambil spesialis itu karena amanah dari ibu dan keluarganya. Suka duka dalam pendidikan spesialis sangat banyak diawali dengan berpulangnya ke rahmatullah sang ibu tercinta.
“Almarhumah inspirasi hidup saya. Guru yang memberi saya banyak visi dalam segala keterbatasan. Beliau meninggal bertepatan dengan satu minggu setelah pengumuman saya lulus melanjutkan pendidikan spesialis obgyn,” kenangnya.
Pada November 2006, dia berhasil menyelesaikan pendidikan spesialis obgyn dengan masa studi tiga tahun empat bulan, jauh lebih cepat dari masa pendidikan empat tahun yang dijadwalkan.
Tahun 2006, sebelum menyelesaikan pendidikan spesialis, dirinya telah terdaftar sebagai dosen tetap Yayasan Wakaf UMI, memenuhi harapan dan cita-citanya sejak SD untuk menjadi guru.
“Itu diluar dugaan dan bayangan saya sebelumnya. Pada bulan Mei 2007 bertepatan dengan ulang tahun saya ke 34, saya diangkat dan diberi SK menjadi dosen luar biasa atau dosen tidak tetap dibagian Obgyn FK Unhas,” jelasnya.
Dan sejak saat itu sampai saat ini, dia aktif mendidik di program profesi dokter dan program dokter spesialis obgyn di FK Unhas.
Selain mengajar di FK sejak tahun 2006, dia juga mengajar di akademi kebidanan. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top