Headline

874 Orang Tertipu Penggandaan Uang YAB

JENEPONTO, BKM — Praktik penggadaan uang sepertinya lagi tren saat ini. Setelah Polda Jawa Timur mengungkap dugaan penipuan di Padepokan Dimas Kanjeng, Probolinggo, kali ini praktik serupa dengan modus berbeda terungkap di Kabupaten Jeneponto
Adalah Yayasan Anak Bangsa (YAB) yang menawarkan praktik penggandaan uang ini. Ketuanya, Nurhayati Karaeng Te’ne bin Rahakuneng Karaeng Lau, beralamat di Jalan Hative Kecil, Kecamatan Siriman, Kota Ambon, Maluku.
Kepada warga Jeneponto, ia mengaku mampu menggandakan uang hingga 10 kali lipat. Minimal menyetor Rp200 ribu, bisa mendapatkan Rp2 juta.
Mereka yang sudah tergiur dengan janji-janji Nurhayati bahkan ada yang sampai menyerahkan Rp2 juta hingga Rp3 juta. Iming-imingnya, uang mereka akan dikembalikan pada bulan Juni 2016 sebesar Rp20 juta dan Rp30 juta.
Namun, janji tinggal janji. Nurhayati tak pernah mengembalikan uang para korbannya. Apalagi sampai menggandakannya hingga 10 kali lipat.
Hingga akhirnya Nurhayati bersama anak buahnya, Samdirman Daeng Siruan muncul di Kampung Beroanging, Desa Beroanging, Kecamatan Bangkala Barat, Kabupaten Jeneponto. Di tempat itu warga setempat sudah berkumpul. Mereka menunggu realisasi janji Nurhayati untuk memberikan uang, yang katanya 10 kali lipat dari yang disetorkan.
Namun kedatangan Nurhayati bukan untuk menyerahkan uang seperti yang dijanjikan. Tapi untuk memperbaharui keanggotaan mereka yang telah menyetor Rp2 juta atau Rp3 juta.
Mengetahui hal itu, warga yang berkumpul langsung berteriak; ”Jangan percaya, dia penipu.” Nurhayati nyaris menjadi bulan-bulanan massa. Beruntung, aparat desa setempat berhasil mengevakuasi Nurhayati dan anak buahnya ke Polsek Bangkala.
Tidak lama kemudian, petugas Polres Jeneponto menjemput mereka dan membawanya ke mapolres.
Salah seorang korban penipuan Nurhayati adalah Nyenta Daeng Ero. Warga Desa Beroanging, Kecamatan Bangkala Barat yang ditemui di mapolres ini, mengaku telah menyetor uang ke Nurhayati bersama 75 warga lainnya pada bulan Maret 2016 lalu.
”Saya dan warga yang lain menyetor Rp200 ribu dan dijanjikan akan dikembalikan 10 kali lipat. Ternyata dia penipu. Saya sudah laporkan dia ke polisi agar diproses hukum,” kata Nyenta yang ditemui di Mapolres Jeneponto, Jumat (7/10).
Kapolres Jeneponto, AKBP Joko Sunarno yang dikonfirmasi, kemarin menyebutkan, praktik tipu-tipu yang dijalankan Nurhayati di Jeneponto sudah memakan korban 874 orang. Mereka tersebar di 11 kecamatan. Jumlah itu berdasarkan catatan dokumen yang disita di rumah orang tua Nurhayati, Kampung Sapanang, Desa Sapanang, Kecamatan Binamu.
”Kalau total uang yang disetor, belum bisa diketahui. Karena setiap anggota menyetor jumlah bervariasi, antara Rp200 ribu hingga Rp3 juta. Kasusnya masih kita kembangkan,” jelas Joko.
Menurut Joko, saat ini Nurhayati dan anak buahnya, Samdirman sudah meringkuk di dalam sel tahanan Polres Jeneponto. Ia mengimbau warga yang menjadi korban penipuan Nurhayati agar segera melapor ke kantor polisi terdekat atau langsung ke mapolres.
”Kepada seluruh masyarakat, kita imbau untuk tidak lekas percaya bila ada orang tak dikenal yang meminta uang atau sesuatu apapun dengan iming-iming menggiurkan. Kalau ada seperti itu segera laporkan ke polisi guna menghindari timbulnya korban lebih banyak,” jelas Kapolres.
Maemuna, istri Samdirman yang datang ke Mapolres Jeneponto, kemarin mengatakan, uang yang diterima suaminya dari warga seluruhnya sudah ditransfer ke rekening Nurhayati. ”Tidak sepeserpun uang yang diambil suami saya,” ujarnya sambil menangis.
Camat Binamu, Edy Irate mengaku sulit mencegah terjadinya praktik penipuan seperti ini. Sebab pelaku langsung mendatangi calon korbannya di rumahnya masing-masing. Mereka melancarkan bujuk rayu dan iming-iming yang menggiurkan.
”Nanti setelah ada masalah baru mereka berteriak. Mau apa lagi, sudah terlambat. Uang mereka sangat sulit dikembalikan,” jelas Edy Irate menyesalkan.
Kepala Kelurahan Biringkassi, Anasta Sakti mengaku jika Nurhayati pernah datang ke Kampung Tanrusampe Biringkassi. ”Waktu itu saya bilang ke warga, usir saja. Jangan dipercaya. Diapun pergi dari Kampung Tanrusampe menggunakan mobil,” terangnya.
Selain YAB, Anasta Sakti juga menyebut satu singkatan lain, yakni PKRI yang melakukan praktik serupa di daerah ini. Hanya saja dia belum bisa menjelaskan seperti apa sepak terjangnya. ”Saya masih menelusurinya, karena anggotanya kebanyakan guru,” jelasnya. (krk/rus/b)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top