Headline

Tulis Buku Athirah untuk Jadi Teladan Perempuan

IST WAPRES-Basti Tetteng bersama Wakil Presiden, Jusuf Kalla.

MENJADI seorang dosen tak membuat Basti Tetteng,SPsi.MSi hanya berkutat pada dunia kampus. Ia juga melebarkan sayapnya di dunia lain, yaitu menulis buku.

Laporan: Ardhita Anggraeni

DI Universitas Negeri Makassar, Basti dikenal sebagai seorang akademisi, aktivis serta peminat masalah psikologi sosial dan politik. Namun di balik itu, ia juga ternyata telah menghasilkan buku.
Salah satunya tentang biografi Hj Athirah, ibunda Wakil Presiden RI, HM Jusuf Kalla. Buku setebal 94 halaman tersebut berjudul; Hj Athirah: Melangkah dengan Payung.
Ada alasan kuat yang mendorong Basti menulis buku tersebut. Salah satunya, keprihatinan atas kurangnya sosok perempuan di Sulawesi Selatan yang dapat dijadikan teladan, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun pada berbagai aktivitas di luar rumah.
“Dari beberapa kali diskusi ringan, saya menyimpulkan bahwa banyak perempuan Sulawesi Selatan yang bisa dijadikan contoh teladan. Tetapi mereka seolah-olah bersembunyi atau tenggelam oleh hiruk-pikuk politik dan berbagai gejolak yang terjadi di tanah air, termasuk di Sulawesi Selatan,” tutur Basti yang sehari-harinya adalah dosen Fakultas Psikologi UNM.
Menurut Basti, telah banyak perempuan terjun dalam pentas politik tingkat Sulsel. Sudah sejak lama perempuan menunjukkan kiprahnya. Bukan hanya di DPRD kabupaten/kota, tapi juga di eksekutif. Tidak sedikit perempuan yang menduduki posisi strategis. Bahkan menjadi seorang wakil bupati.
Basti optimistis, ke depan bukan tidak mungkin akan ada perempuan yang menjadi gubernur di daerah ini. Apalagi jikamelihat lebih jauh ke belakang, Sulsel pernah memiliki pahlawan perempuan, antara lain Andi Ninnong, Opu Dg Risadju dan Batari Todja.
“Pemikiran saya waktu itu adalah bagaimana saya dan Angkatan Muda Muhammadiyah ingin mencari sosok lain yang bukan pejabat, bukan politisi, dan bukan pahlawan pejuang kemerdekaan, tetapi punya peran besar dalam keluarga dan dapat diteladani dari cara mendidiknya,” terangnya.
Lalu sampailah dia pada sebuah nama, yakni Athirah, seorang ibu rumah tangga yang terbilang sukses mendampingi suami sehingga bisa tampil sebagai pengusaha, sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel. Juga menjadi seorang ibu yang sukses mendidik dan membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi orang-orang yang berpendidikan dan berpengaruh di Indonesia, bahkan luar negeri.
”Saya pikir Ibu Hj Athirah juga seorang perempuan pengusaha dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Bahkan di kesendiriannya waktu itu, beliau bisa dan mampu membesarkan anak-anaknya hingga menjadi orang-orang berhasil,” bebernya.
Basti menilai, sosok Athirah yang tergolong orang berada dan punya banyak peluang untuk menjadi ketua organisasi atau terjun ke dunia politik, ternyata tidak suka pamer ataupun menonjolkan diri. Apalagi sampai ingin merebut jabatan dan kekuasaan.
“Sosok Ibu Athirah yang saya gambarkan dalam buku itu sudah dapat mewakili perempuan teladan. Bukan hanya teladan bagi kaum ibu rumah tangga, tapi teladan bagi perempuan karier, dan juga teladan bagi perempuan-perempuan muda,” jelasnya.
Buku yang ditulis Basti Tetteng dan kawan-kawan ini didominasi warna hijau muda dan menampilkan gambar Athirah muda yang berkerudung. Di dalamnya berisi biografi Athirah Kalla, mulai dari lahir sampai menikah dengan Haji Kalla, ayahanda Jusuf Kalla. Buku ini menceritakan mengapa Athirah memilih aktif di organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah, padahal suaminya aktif di Nahdlatul Ulama.
Buku ini juga menceritakan pergaulan Athirah dengan teman-temannya di Makassar, lengkap dengan foto-foto hitam putihnya. Athirah kemudian meninggal pada 19 Januari 1982. (*/rus)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top