Headline

Heboh Penelitian ‘Ayam Kampus’ dan Seks Komersial

SEBAGAI seorang psikolog dan dosen, Basti Tetteng juga tertarik pada dunia penelitian. Salah satunya dia pernah meneliti keberadaan ‘ayam kampus’ dan perilaku seks komersial lainnya. Karya ilmiah yang ia hasilkan telah dipublikasikan di Belgia.

Laporan: Adhita Anggraeni

SAAT ini Basti Tetteng disibukkan dengan penelitian terkait masalah seks di lingkungan kampus. Tercatat ada 10 hasil penelitian yang telah dipublikasikannya melalui media maupun dalam berbagai diskusi dan pertemuan.
”Menulis adalah kegemaran yang menantang. Sesuatu yang jarang diteliti orang, menarik bagi saya untuk mengetahuinya lebih jauh. Setiap tahun saya melakukan penelitian terkait masalah seks dari berbagai fenomena berbeda, hingga menghasilkan 10 penelitian,” ungkap Basti di kediamannya beberapa waktu lalu.
Pria kelahiran Bone, 31 Desember 1970 ini memulai jejak penelitian terkait seks komersial saat tersiar kabara ‘ayam kampus’ di kalangan mahasiswa S1. Awalnya dia sekadar melakukan survei di lapangan.
Dari situ ia kemudian mulai menuliskan hasil penelitiannya, hingga memperoleh berbagai penghargaan. Basti kemudian menerbitkannya menjadi jurnal dan karya ilmiah.
“Waktu heboh-hebihnya ‘ayam kampus’ tahun 2008, saya langsung tertarik. Tapi bukan meneliti. Hanya survei saja untuk memastikan dugaan saya juga. Dari situ saya menemukan 20 orang menjajakan dirinya di kampus untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dengan berkedok sebagai mahasiswa,” bebernya.
Anak ketiga dari sembilan bersaudara ini juga menemukan bahwa di kalangan mahasiswa telah terjadi praktik prostitusi di kampus sejak tahun 1994. Selanjutnya, pada tahun 2010 hasil survei tersebut dituangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah dan diluncurkan di Kota Makassar.
”Saya sudah meneliti di berbagai kota. Diantaranya Malang, Yogyakarta, Makassar, Surabaya, Malino dan banyak daerah lain. Hasil penelitian itu salah satunya diterbitkan di Belgia. Saya juga mendapat penghargaan dari penelitian itu,” kata putra dari almarhuman Siti Alam Dg Tasanna dan almarhum Tetteng Dg Pratiwi ini.
Berkat pencapaiannya, Basti juga telah diganjar penghargaan dari Unicef terkait penelitian psikologi yang mendorong pendidikan usia dini pada tahun 2007-2009. Ada pula penghargaan sebagai peneliti pemimpin wanita di tahun 2012.
Basti diangkat sebagai Dekan Psikologi UMM periode lalu, serta mendapatkan penghargaan dosen teladan dua kali pada tahun 2005 dan 2008. Ia juga aktif menjadi pembicara pada berbagai forum nasional.
“Karena sering bawakan kuliah yang berbau seks dan pelajaran agar mahasiswa menjauhi seks, saya pernah dijuluki oleh mahasiswa sebagai dosen lale. Tapi saya memberikan pemahaman kepada mereka bahwa seks bebas itu tidak bagus dan merupakan penyimpangan,” jelasnya.
Ayah empat anak ini sedikit menceritakan pengalamannya ketika meneliti seks komersil dan ‘ayam kampus’. Ia pernah dicaci maki oleh PSK dan beberapa mahasiswi yang ingin dijadikannya sebagai narasumber.
”Meneliti itu harus tahu kondisi dan terjun langsung di lapangan. Saya kemudian mencoba membayar PSK untuk menjadi narasumber. Tapi dia tidak mau dan sembunyi. Saat itulah ada proses tawar menawar harga. Mungkin karena penawarannya yang rendah, saya kemudian dibilangi cowok tidak modal. Saya kemudian pergi meninggalkannya. Kan cuma iseng,” kenangnya sambil tersenyum. (*/rus)

Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top