Bisnis

TPID dan Pengembangan Kluster Dipercaya Mampu Kendalikan Inflasi

SEBANYAK 236 orang wartawan dari berbagai kota di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Bali, diboyong Bank Indonesia ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan Temu Wartawan Daerah. Kegiatan tersebut digelar pada 2 sampai 5 Oktober didua tempat berbeda, yakni Hotel Grand Mercure Harmoni serta Bank Indonesia. Kegiatan dibuka Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara.
Kegiatan yang untuk pertama kalinya dihelat Bank Indonesia tersebut bertujuan mengedukasi dan meningkatkan kapasitas wartawan di daerah khususnya terkait pemahaman wartawan tentang Bank Indonesia dan kebijakan terkini yang dikeluarkan. Selain itu, untuk memperkuat networking wartawan, baik antarsesama rekan seprofesi dari berbagai daerah maupun narasumber.
”Kami berharap melalui kegiatan ini, banyak yang bisa diserap wartawan untuk dijadikan acuan dalam menulis berita. Terutama yang menyangkut persoalan keuangan,” kata Mirza Adityaswara
Sebelum membuka acara, lelaki yang juga dikenal sebagai analis keuangan itu berceramah seputar tugas dan kewenangan Bank Indonesia.
Menurutnya, tugas utama Bank Indonesia adalah menjaga nilai rupiah. Tugas lain adalah makro prudential atau memonitor kesehatan sistem perbankan nasional.
Banyak agenda menarik yang dikemas BI melalui kegiatan ini. Di antaranya membuka wawasan wartawan terkait pengendalian inflasi, serta bagaimana Bank Indonesia mengelola uang rupiah, hingga menggaungkan gerakan nasional non tunai pada masyarakat. Terkait pembahasan mengenai inflasi, Bank Indonesia membuka satu sesi materi terkait pengendalian inflasi.
Salah satu upaya dilakukan adalah dengan membentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang diklaim berhasil mengendalikan inflasi di daerah. Hal itu terbukti sejak dibentuk dan bekerja secara aktif pada tahun 2011 lalu. TPID mampu menjaga inflasi pada kisaran 4 persen, seperti yang dikemukakan Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia Noor Yudanto saat menjadi pembicara.
Menurutnya, inflasi dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya ketersediaan atau stok kebutuhan pangan seperti cabai, bawang dan lainnya.
Noor menambahkan, salah fungsi TPID yaitu membangun kerjasama pengendalian inflasi serta menyiapkan roadmap yang bisa terintegrasi antardaerah. Hal ini diperlukan, karena inflasi lebih struktural dan bersifat jangka panjang.
Sementara itu, Deputi Direktur Departemen Pengembangan UMKM Bank Indonesia, Winny Purwanti menambahkan, pengembangan klaster berfungsi dalam pengendalian inflasi dari sisi suplay yang bertujuan mendorong peningkatan kapasitas ekonomi UMKM dalam rangka meningkatkan daya beli masyarakat dan pasokan komoditas.
Klaster yang dimaksud yaitu sekelompok UMKM yang beroperasi pada sektor dan sub sektor yang sama atau merupakan konsentrasi perusahaan yang saling berhubungan dari hulu ke hilir. Winny mengaku, komoditas setiap daerah berbeda penyumbang inflasinya. Diharapkan klaster perwakilan di daerah akan mengembangkan klaster sesuai komoditas yang menjadi kontributor penyumbang inflasi di daerahnya. Bank Indonesia telah mengembangkan 158 klaster ketahanan pangan meliputi 20 komoditas pangan di 45 perwakilan Bank Indonesia. (rhm/mir)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top