Sulselbar

Toilet Rp 700 Juta Disoal

PAREPARE, BKM — Insiden pengrusakan fasilitas ruang paripurna yang dilakukan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Parepare saat unjuk rasa, di Gedung DPRD, Senin (3/10) mendapat perhatian serius dari Wali Kota Parepare.

Wali Kota Parepare HM Taufan Pawe dihadapan para anggota dewan dan pimpinan SKPD, usai paripurna penyerahan Ranperda APBD Perubahan, Selasa (4/10) mengakui kejadian itu adalah insiden demokrasi.
Hal ini terjadi karena miskomunikasi antara Dinas PU dengan masyarakat. Kalau berbicara pembangunan toilet sebesar Rp 700 juta, publik pasti kaget kenapa sebesar itu anggaranya. “Itulah yang tidak dipahami masyarakat termasuk mahasiswa yang kemarin demo,”terangnya.
Mestinya, dinas PU, sebelum melakukan pekerjaan harus ada papan proyek sebagai bentuk sosialisasi dan baliho desain toilet sehingga masyarakat paham bahwa toilet yang dibangun bukan tunggal tapi banyak asesoris didalamnya.
“Toilet perempuan dan laki-laki didesain dengan profesional, bahkan perencananya yang bonafit tidak asal-asalan, jika pembangunan toilet ini tidak disosialisasikan maka wajar masyarakat bertanya dan itu tidak bisa disalahkan,”tuturnya.
Taufan mengatakan, kurangnya komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat soal pembangunan toilet maka otomatis pasti terjadi miskomunikasi.
“Pembangunan toilet di Lapangan Andi Makkasau itu sudah matang dan melalui proses pembahasan yang disahkan oleh DPRD sendiri, hanya saja harus diawasi pekerjaanya agar tidak asal kerja, dan disinilah diminta pengawasan dewan dalam kegiatan proyek ini,”tuturnya.
Sementara, legislator, PKB Andi Fudail sangat mendukung pembangunan toilet,”Kami minta Pemkot tetap melanjutkan toilet, kami siap mendukung. Ini salah satu ikon Kota Parepare, setelah patung cinta Ainun-Habibie,”tuturnya.
Apapun dibangun pemerintah demi kesejahteraan masyarakat, DPRD tetap mendukung.
“Saya sepakat pernyataan Wali Kota untuk membangun Parepare demi kesejahteraan masyarakat kita,”tuturnya.
Hal senada diungkapkan legislator Gerindra, Topan Armas. Menurut Topan akibat miskomunikasi karena pihak terkait kurang sosialisasi ke masyarakat. Mestinya sebelum kegiatan ini dilalukan maka harus dipublikasikan melalui media cetak dan elektronik mengenai pembangunan toilet, sehingga masyarakat paham dan tau mengenai pembangunan itu.
“Mestinya dijelaskan di media cetak atau elektronik mengenai pembangunan toilet agar masyarakat tahu bagaimana desain pembangunanya,”kata Topan (smr/C)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top