Headline

Pengoplos Elpiji, Gaji Kecil Risiko Besar

MAKASSAR, BKM — Tingginya selisih harga atau keuntungan yang bakal didapatkan, menjadi salah satu motivasi bagi sejumlah pihak untuk melakukan pengoplosan elpiji. Mereka tidak lagi mempertimbangkan risiko yang bakal ditanggung dari praktik ini begitu besar. Tidak saja kerugian dari segi materi, tapi juga mengancam jiwa dan keselamatan orang-orang di sekitarnya.
Arnol ketika ditemui BKM di salah satu warkop, menuturkan keuntungan dari pengoplosan ini cukup menggiurkan. Karena yang dioplos adalah elpiji bersubsidi isi 3 kilogram, selanjutnya dijual dengan harga elpiji 12 kilogram yang tidak bersubsidi.
Arnol adalah pekerja di salah satu tempat pengoplosan. Namun beberapa waktu lalu telah memilih berhenti setelah mengetahui bahaya yang bakal ditimbulkan dari praktik curang ini. Sementara gaji yang diperolehnya tergolong kecil dibanding risiko besar yang dihadapinya.
”Ketika pertama kali bekerja di tempat itu, saya hanya disuruh memindahkan elpiji dari tabung 3 kilogram ke tabung 12 kilogram dengan menggunakan alat seperti belalai gajah,” ujarnya mulai membuka rahasia praktik di tempat kerjanya dulu.
Pengoplosan itu dilakukan di sebuah ruangan tertutup tanpa ada penerangan lampu ataupun kipas angin. Sehingga udara di dalam ruangan itu pengap dan hanya tercium aroma elpiji. Dalam bekerja, empat orang pekerja dibekali masker penutup hidup. Seluruh pekerja dilarang membawa korek dan handphone ke dalam ruang kerja. Semua perlengkapan itu disimpan di dalam sebuah lemari yang telah disiapkan pihak pemilik pengoplosan.
Tentang gaji yang diterimanya, aku lelaki berusia hampir 30 tahun ini, berdasarkan jumlah tabung kecil yang berhasil dipindahkan ke tabung besar. ”Jadi, semakin banyak tabung kecil yang kami pindahkan isinya ke tabung besar, maka tentu semakin besar pula pendapatan yang saya peroleh. Minimal saya bisa mendapatkan Rp1,5 juta sebulan dengan memindahkan tabung kemasan 3 kilogram sampai 16 tabung,” akunya tanpa mau menyebutkan letak usaha tempatnya mengoplos.
Dalam mendapatkan elpiji kemasan tiga kilogram, akunya, dia biasa melihat kendaraan angkutan barang membawa ke tempatnya bekerja. Kendaraan itu juga yang sering membawa tabung 3 kilogram yang telah kosong dan tabung 12 kilogram yang sudah penuh terisi.
”Soal berapa harga pembelian elpiji tiga kilogram dan harga jual 12 kilogram itu, saya tidak tahu. Saya hanya bekerja memindahkan isinya saja, Pak. Harga pembelian dan penjualan, itu pemilik usaha yang punya urusan,” akunya.
Meski dugaan pengoplosan dilakukan sejumlah pihak, baik Pertamina maupun Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Makassar, mengaku belum pernah menerima laporan tersebut. Bahkan, Pertamina melalui Alicia, Communication & Relations Marketing Operation Region (MOR) 7 Sulawesi, memastikan kalau mitra Pertamina tidak ada yang melakukan pengoplosan ini.
”Pengoplosan elpiji adalah memindahkan isi tabung elpiji ke tabung lain tanpa izin baik dari segi usaha, izin terkait standar kesehatan, keselamatan dan lingkungan kerja (HSE/health, safety and environmemt). Biasanya dilakukan tanpa menggunakan peralatan yang benar,” tutur Alicia.
Terkait adanya dugaan pekerja di agen maupun pangkalan menjadi penyuplai ke tempat pengoplosan itu, Alicia mengatakan, pangkalan elpiji dapat dimonitor penjualan dan stoknya melalui teknologi sistem informasi. Di samping itu, transaksi agen ke pangkalan dapat dimonitor dari pembayaran perbankan yang dapat diakses Pertamina. Selain itu, juga dilakukan pengecekan fisik di lapangan.
”Pertamina menyediakan elpiji kemasan 12 kilogram, 50 kilogram, dan bulk untuk rumah makan yang tergolong besar. Kami imbau kesadaran kepada para pemilik rumah makan untuk tidak menggunakan elpiji subsidi. Setiap hari, untuk wilayah Makassar kami mensuplai elpiji tiga kilogram sebanyak 53 ribu tabung,” jelas Alicia. (mir)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top