Sulselbar

Dinkes Sosialisasi Larva Trap

SOSIALISASI -- Dinkes Kabupaten Sidrap melakukan pencegahan dini dengan mensosialisasikan Larva Trap di sekolah-sekolah guna menekan angka kasus DBD, Senin (3/10).

SIDRAP, BKM — Masih tingginya angka penderita kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sidrap tahun 2016 ini membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) harus putar otak mengurangi angka tersebut. Langkah bentuk pencegahanpun mulai diterapkan dengan menyasar sekolah-sekolah karena dianggap rentang terjadi kasus DBD pada anak usia pelajar.
Seperti yang dilakukan saat ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) mulai menerapkan sistem teknologi perangkat jentik (Larva Trap) untuk menekan angka DBD tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidrap, dr Andi Irwansyah, menjelaskan inovasi terbaru yang diterapkan di Sidrap ini, diharapkan mampu menekan angka penderita DBD terutama di lingkungan kumuh.
Sistem Larva Trap ini diklaim juga sebagai daerah yang pertama diterapkan di Indonesia. Teknologi Larva Trap, katan dia, dibuat dalam rangka memutus mata rantai penularan DBD melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, sehingga tidak lagi menjadi masalah kesehatan.
Menurutnya, teknologi Larva Trap yang sederhana dan mudah dibuat dengan manfaat yang lebih besar itu adalah perangkat untuk membunuh jentik-jentik nyamuk.
Teknologi tepat guna itu, lanjut Irwansyah untuk mencegah tersebarnya virus DBD. Sebab, katanya, virus DBD tidak hanya tersebar melalui orang yang sudah terjangkit, namun karena nyamuk Aedes aegipty yang menyebarkan virusnya.
“Teknologi Larva Trap berfungsi untuk menjebak jentik-jentik nyamuk agar tidak tumbuh dan berkembang jauh lebih optimal ketimbang membunuh nyamuk dewasa dengan fogging. Bahannya terbuat dari botol minuman bekas,” ungkap Dr Irwansyah, diruang kerjanya, Senin (3/10).
Jauh dijelaskan, permasalahan yang terjadi di Sidrap adalah masih tingginya angka kesakitan akibat penyakit DBD dan cakupan Angka Bebas Jentik (ABJ) baru 60 persen, masih jauh dari target sebesar 95 persen.
Menurutnya, pengendalian yang sudah dilakukan adalah pengendalian secara biologi maupun kimia, akan tetapi penyakit DBD masih tetap ada. Untuk itu, kata dia, solusi tepat yang harus dilakukan adalah melakukan perubahan dalam pengendalian penyakit terutama jentik nyamuk dengan perangkat Larva Trap.
Lebih jauh, Irwansyah mengaku, situasi penyakit DBD di Sidrap pada tahun 2013 sebanyak 173 penderita, tahun 2014 sebanyak 56 orang dan mengalami penurunan sebanyak 116 orang (32,55%).
Sedangkan di tahun 2015 terdapat jumlah penderita 82 orang dan mengalami peningkatan sebanyak 26 orang (68,29%).
“Sementara penderita di tahun 2016 ini mulai Januari hingga Agustus sekitar 137 penderita dan meninggal 1 orang. Makanya, kami berharap setelah disosialisasikannya Larva Trap ini angka kasus DBD bisa tertekan. Jadi, warga diminta agar bisa memperbanyak sendiri alat ini untuk dipasang di rumah masing-masing,” tandasnya. (ady/C)

loading...
Comments

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top