Headline

Aku Jadi Tulang Punggung Ekonomi Keluarga

Cinta adalah anugerah dan kodrat yang diberikan Allah SWT. Cinta mengandung makna pengorbanan, ketulusan, empati, hingga kasih sayang. Ketika terjadi pengkhianatan, cinta akan ternoda. Begitu juga ketika cinta dimanfaatkan untuk kepentingan dari pasangan, maka cinta kehilangan makna.

Adalah Harnum (bukan nama sebenarnya, 28 tahun) yang harus kehilangan makna cinta karena sang suami, Aditya (30 tahun, nama samaran) berlaku egois dan mengabaikan kehadiran seorang istri.
Empat tahun pertama membina mahligai rumah tangga, Harnum kerap merasakan pahitnya hidup berkeluarga.
Harnum berkenalan dengan Aditya dalam suatu acara pernikahan seorang temannya. Selama tiga bulan, kedua insan ini melewati masa penjajakan hingga kemudian menikah. Harnum tidak ingin berlama-lama hubungan tanpa status sehingga dia meminta jika memang Aditya serius, lebih baik dibuktikan dengan menikahinya.
Suaminya seorang pengangguran. Sementara Harnum seorang karyawan bagian customer service (CS) di salah satu perusahaan otomotif. Awalnya, Harnum menyembunyikan status pernikahan dengan Aditya karena berdasarkan aturan kantornya, seorang karyawan bagian CS tidak diperkenankan untuk menikah sesuai dengan kontrak yang sedari awal ditandatangani Harnum.
Akibatnya, hubungan suami isteri harus disembunyikannya dari orang kantor.
Ternyata, setelah menikah, bukan manisnya cinta yang dirasakan melainkan kepedihan. Harnum yang berperawakan semampai dan berwajah manis itu kerap menelan pil pahit hidup berumah tangga.
Karena belum memiliki rumah sendiri, Harnum dan suaminya numpang di rumah mertua. Bukan hanya dia dan suaminya tinggal di sana. Beberapa iparnya juga menetap di rumah tersebut. Sebagai menantu dan ipar yang tahu diri, Harnum harus punya kepedulian terhadap seisi rumah. Namun sayang, kebaikannya itu dimanfaatkan. Pulang kerja, wanita berambut panjang itu diperhadapkan dengan pekerjaan rumah tangga yang seabrek-abrek. Dia harus membersihkan rumah, mencuci, hingga masak. Padahal, Harnum sudah letih dan ingin istirahat sehabis kerja. Yang paling parah, ternyata Harnum juga harus dibebani dengan berbagai kebutuhan rumah. Mulai dari beli beras, bayar tagihan listrik, air, hingga barang pokok lainnya. Harnum tidak ingin mengeluh. Dia berusaha memposisikan diri sebagai istri yang baik.
Beban hidup yang dipikul ternyata harus dirasakan sendiri. Suaminya seolah cuek dan tidak mau tahu dengan beban yang dihadapi sang isteri. Aditya sibuk dengan dirinya sendiri. Bangun menjelang siang. Di meja, sarapan sudah disiapkan Harnum yang dimasak subuh-subuh sebelum berangkat kerja. Setelah itu, Aditya mandi, berpakaian parlente, menuju warkop, nongkrong dengan teman-temannya hingga tak terasa waktu terus berputar. Begitu setiap hari. Jika kekurangan uang, dia tinggal minta pada sang istri.
Kadang, Harnum mengeluh nasib yang harus dijalaninya. Namun, dia sadar semua sudah diatur oleh Tuhan. Dia selalu berharap kesabarannya dalam menghadapi cobaan hidup, nantinya akan berbuah manis. (rhm/cha/b)

Comments

Social Media

Dalam melaksanakan tugas jurnalistik, wartawan Berita Kota dibekali tanda pengenal. Tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta, imbalan dari siapapun, dalam bentuk apapun, serta dengan alasan apapun.

Copyright © 2017 Berita Kota Makassar.

To Top